Prof. Dr. I Made Bandem, MA dan Diplomasi Kebudayaan Bali – Jepang

Prof. I Made Bandem dan istri Ny. Dr. Suasthi Widjaja Bandem bersama putranya I Made Marlowe Makaradwaja Bandem dan Ni Wayan Ekarini Marlowe foto bersama Konsul Jenderal Jepang Wilayah Bali – Nusa Tenggara  Mr. Hirohisa Chiba usai menerima penghargaan dari Kementerian Luar Negeri Jepang  yang diberikan oleh Mr. Hirohisa Chiba di Kantor Konsulat Jenderal Jepang Wilayah Bali – Nusa Tenggara di Denpasar, Jumat (08/09). BNN/RAHMAN

Denpasar/balinewsnetwork.com-I Made Bandem adalah seorang seniman akademisi yang lahir di Desa Singapadu, Gianyar pada 22 Juni 1945 dan telah mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang tokoh Diplomasi Kebudayaan Indonesia. Predikat itu dicapainya sejak dia menjadi penari dan pemimpin ASTI/STSI Denpasar (1982-1997) dan ISI Yogyakarta (1997-2006). Selama itu dia sering bertugas sebagai Direktur Artistik Misi Kesenian Indonesia ke luar negeri dan pada tahun 1990 dia diberi julukan oleh The New York Times sebagai “The Joe Papp of Bali,” seorang seniman yang membawa seni pentas ke tingkat profesional.

Sejak belajar di University of Hawaii pada tahun 1968, I Made Bandem telah tertarik mempelajari kesenian Jepang. Di Music Department University of Hawaii, saya mulai mempelajari Bon Odori (tari rakyat) Jepang. Diiringi dengan Daiko, Bandem menari Bon Odori bersama para mahasiswa dan masyarakat Jepang yang berada di University of Hawaii. Selain mempelajari tari ballet, tari modern, dan tarian Polinesia, Bandem juga mengajar tari Bali untuk mahasiswa Jurusan Tari, Teater, dan Fakultas musik University of Hawaii. Bandem sering tampil di atas panggung-panggung pergelaran di pulau Oahu, Maui, Molokai dan Kaui.

Di University of California at Los Angeles (UCLA), Bandem belajar Etnomusikologi dari Prof. Dr. Mantle Hood. Dibantu oleh istrinya, Suasthi Bandem dia juga mengjar tari dan gamelan Bali dari tahun 1969-1972. Di samping mengajar kesenian Bali, I Made Bandem mulai mempelajari tari Bugaku dan musik Gagaku, dua genre seni klasik Jepang, dari seorang maestro yang bernama Suenobu Togi. Dari tahun 1970-1972, Bandem dan istrinya ikut dalam kelompok Gagaku dan Bugaku UCLA untuk melakukan pementasan di Kampus UCLA dan Kuil-kuil masyarakat Jepang di sekitar Kota Los Angeles.

Demikian pula saat mengambil gelar Doktor (S-3) dalam bidang Etnomusikologi di Wesleyan University (1977-1980), Bandem dan istrinya juga sempat mengambil mata kuliah Gagaku dan Bugaku dari maestro, Matsaro Togi selama 1 tahun dan sering mengadakan pementasan di sekitar Kota Middletown, Connecticut. Suasthi Bandem juga membantu sang maestro untuk mendesain kostum Bungaku yang digunakan dalam pementasan-pementasan di Wesleyan University. Selain mempelajari musik dan tari Jepang, I Made Bandem juga mempelajari kebudayaan Jepang yang lebih luas. Apabila karena alasan tertentu, I Made Bandem tidak berhasil melakukan penelitian untuk disertasinya dalam bidang musik dan teater Bali, dia memutuskan untuk menyusun sebuah proposal guna mengadakan penelitian musik Gagaku dan budayanya sebagai cadangan disertasi Ph.D.nya. Dibimbing oleh Prof. Genji Tzuge dan Prof. Fritz deBoer, I Made Bandem telah mempersembahkan sebuah proposal studi Gagaku sebagai bagian dari Ujian Qualifikasi Ph.D.nya.

Ketika sudah menjadi Ketua Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar pada tahun 1981-1997, I Made Bandem banyak sekali menerima mahasiswa Dharmasiswa dan non Dharmasiswa dari Jepang yang suka mendalami kesenian Bali seperti tari dan gamelan di Kampus ASTI dan STSI Denpasar. Sampai saat ini masih banyak mahasiswa dan peneliti dari Jepang yang belajar di ISI Denpasar dan Sanggar Seni Makaradhawaja milik I Made dan Suasthi Bandem. Diantara mereka banyak yang sudah menjadi kandidat M.A. dan Ph.D. yang melakukan penelitian tentang musik, tari, dan teater Bali.

Pada tahun 1982, atas undangan The Japan Foundation, bersama I Gusti Bagus Nyoman Pandji, I Made Bandem diminta untuk memimpin Misi Kesenian Bali ke Jepang yang berintikan dramatari Gambuh, Topeng, dan Kebyar. I Made Bandem selalu tampil sebagai penari topeng, gambuh dan tari Oleg Tamulilingan bersama istrinya. Selain ikut menari, I Made Bandem bertugas memberi ceramah dan workshop teater Bali kepada para dosen dan mahasiswa di beberapa universitas di Jepang. Misi Kesenian itu mengadakan pementasan di Tokyo, Kyoto, Osaka, Kobe, Hiroshima,  Okinawa dan beberapa kota lainnya.

Hubungan antara kesenian Bali dan Jepang makin bertambah erat sejak I Made Bandem bertemu dengan Prof. Dr. Tsutomu Ohashi (Prof. Yamashiro), seorang scientist Jepang yang memiliki grup Kesenian Bali terbesar di Jepang. Sejak tahun 1984, I Made selalu diundang untuk mengikuti seminar dalam kesenian oleh Prof. Yamashiro yang kemudian membentuk sebuah Yayasan (bersama Gubernur Bali IB Oka dan Ibu Sari Sudo) yang dinamakan Yayasan Cipta Budaya Bali yang tugasnya untuk merancang pertukaran budaya antara Bali dan Jepang. Grup Kesenian (Kecak) Yamashirogumi sering tampil di PKB dan I Made Bandem sering pula diundang ke Jepang untuk menghadiri Kecak Festival dan beberapa seminar internasional atas usaha Yayasan Cipta Budaya Bali.

Mulai tahun 1986, Prof. Yamashiro dan beberapa Universitas di Jepang sering menyelenggarakan seminar internasional mengenai Kebijakan Pengembangan Kebudayaan, Estetika Seni Rupa, Industri Budaya, dan I Made Bandem selalu menjadi pembicara kunci dalam peristiwa-peristiwa besar itu.

Pada tahun 1987, I Made Bandem dan istrinya, memimpin sebuah grup “Children of Bali” ke Jepang yang mengadakan pementasan di Osaka Expoland, dalam rangka Asian Children Festival. Festival yang disponsori oleh National Museum Osaka dan pementasan itu mendapat perhatian besar dari masyarakat Jepang. Setahun setelah itu, I Made dan Suasthi Bandem ditunjuk sebagai kurator yang bertugas mengadakan busana dan asesories Pakaian Adat Bali yang dijadikan koleksi Fashion Museum di Kota Kobe.

Pada tahun 1994, atas prakarsa Yayasan Cipta Budaya Bali, Prof. Yamashiro memperkenalkan I Made Bandem dengan President NTT Data Corporation, Mr. Shirou Fujita dan perkenalan itu menjadi cikal bakal dari kerjasama STSI Denpasar dengan NTT Data dalam pengembangan SUISAI ART Computer, sebuah sistim perangkat lunak untuk melukis dengan komputer. Kerjasama itu menyebabkan banyak anak-anak Bali dari Desa Kamasan Klungkung dan mahasiswa STSI Denpasar yang pintar melukis dengan komputer. Lima tahun kemudian SUISAI Graphic Art Sofware yang bersejarah itu didistribusikan kepada seluruh Perguruan Tinggi Seni di Indonesia seperti ISI Yogyakarta, STSI Bandung, STSI Surakarta dan STSI Padang Panjang.

Selain sering mengikuti seminar dan memimpin Misi Kesenian Bali ke Jepang, pada tahun 1996-1997 I Made Bandem ditunjuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr.-Ing Wardiman Djojonegoro sebagai Artistic Director Festival Persahabatan Indonesia-Jepang 1997, dan I Made Bandem setiap bulan pergi ke Jepang, mengunjungi Tokyo, Kyoto, Osaka, Kobe, Iwate, Okaido untuk mempersiapkan pergelaran dan pameran seni lukis di beberapa teater dan museum di Jepang. Festival IJFF (Indonesia-Japan Friendship Festival) itu dibuka secara resmi oleh Putra Mahkota Pangeran Akishino dan Putri Kiko, pada tanggal 16 September 1997, sedangkan Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko, sempat menyaksikan the Treasures of Indonesian Kingdom Exhibition di Tokyo National Museum pada tanggal 4 November 1997.

Festival IJFF (Indonesia-Japan Frienship Festival) atau “Festival Persahabatan Indonesia-Jepang 1997: Menuju Pershabatan Dari Hati ke Hati” menampilkan seni pertunjukan Dharma Shanti (STSI) Denpasar, grup Taman Mini Indonesia, grup Tirta Sari, grup Jegog Suar Agung, grup Keraton Surakarta, Tari Minang, Reog Ponorogo, dan lain-lain memperoleh sukses besar dalam festival tersebut. Selain seni pentas dari Bali, IJFF 1997 juga menggelar pameran seni lukis Museum Neka (di Iwate Museum, Morioka dan  Setagaya Museum, Tokyo) dan Museum ARMA (Lukisan dan tekstil di Pusat Taman Hiburan Toshimaeng).

IJFF 1997 melibatkan 56 buah acara yang berlangsung di 37 kota dan di 84 venues, berlangsung selama 321 hari telah dikunjungi sekitar 2. 689. 395 orang. Di samping itu melalui surat kabar dan dan majalah jutaan orang masyarakat Jepang lainnya dapat membaca berita tentang pelaksanaan festival serta dapat melihat gambar kegiatan melalui berita televisi dan video film.

Sesudah menjadi Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogykarta (1997-2006), hubungan kerjasama di bidang pendidikan dan penelitian dilakukan oleh ISI Yogyakarta dengan Osaka City University. Kerjasama yang dipimpin oleh Prof. Dr. Shin Nakagawa dan Prof. Dr. I Made Bandem berlangsung sampai sekarang serta banyak dosen ISI Yogyakarta dikirim untuk belajar ke Osaka dan demikian juga sebaliknya. Kerjasama yang berfokus pada Urban Culture Research berjalan mulus dan berdampak positif bagi kedua Perguruan Tinggi tersebut. Selain dengan Osaka University, I Made Bandem juga merintis hubungan kerjasama dengan Ritsumeikan Univeristy Kyoto dan kerjasama dengan Prof. Yamashiro dan Prof. Kambayashi menghasilkan beberapa seminar internasional yang berlangsung di Bali, Taipei, China, dan Korea untuk memperjuangkan eksistensi Estetika Timur dalam kancah perkembangan seni rupa dunia.

Selain berhasil memperkenalkan berbagai bentuk seni pertunjukan Indonesia di Jepang, pada tahun 1998 atas prakarsa NTT Data Corporation dan Yayasan Cipta Budaya Bali, kami berhasilkan menampilkan maestro seni lukis modern Bali, I Made Wianta dalam sebuah pameran tunggal di East Railways Station Galery. Pameran yang dikemas dengan perpaduan sound system dan lighting modern karya Prof. Yamashiro, berhasil dengan sukses dan sebanyak enam buah karya seni lukis berukuran besar I Made Wianta menjadi koleksi museum-museum ternama di Jepang. Pameran sejenis itu dilanjutkan pula pada tahun 2003 dengan menampilkan pelukis magis, I Ketut Budiana dari Padang Tegal Ubud. Dinyatakan sebagai salah seorang murid Ida Bagus Made Poleng, pameran seni lukis itu mendapat perhatian besar dari para pelukis dan masyarakat Jepang.

Turut mendirikan Yayasan Widya Dharma Shanti pada tahun 2001 yang berkembang menjadi salah satu badan penyelenggara pendidikan terbesar di Bali, khususnya di bidang teknologi informasi dan komputer. Keberadaan aset-aset pendidikan seperti STIKOM Bali, STT Bandung, SMKTI Bali Global, SMKTI Indonesia Global, Poltek Ganesha Guru, LPBA, Bisma Informatika dan lain-lain telah meluaskan peran serta dan sumbangsihnya dalam meningkatkan dan memajukan pendidikan tinggi dan daya saing bangsa. Kini, STIKOM Bali telah memiliki mahasiswa sebanyak 7000 orang dengan berbagai Program Studi di bidang teknologi informatika. Para mahasiswa STIKOM Bali diwajibkan pula mempelajari bidang kesenian untuk memberi keseimbangan otak kanan dan kiri. Para pendiri STIKOM Bali yakin bahwa karakter bangsa Indonesia ke depan akan terletak pada kemampuan mereka di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.

Sebagai Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti dan salah satu pendiri STIKOM Bali, Bandem terus merintis, mengembangkan dan membuka jalan bagi kerjasama internasional antara STIKOM Bali dan kampus-kampus dunia lainnya. STIKOM Bali telah bekerjasama dengan Kyushu Sangyo University, Fukuoka dan Bunkyo University terkait pengiriman dosen-dosen STIKOM Bali untuk melanjutkan pendidikan S-2, pertukaran mahasiswa dan penelitian bersama. STIKOM Bali pun kini telah memiliki Pusat Studi Jepang yang berfungsi untuk mempererat hubungan Indonesia-Jepang melalui diplomasi bahasa, teknologi dan seni-budaya.

Sejak tahun 2013, Bandem menjadi penasihat dan pembina dari program Arsip Bali 1928 STIKOM Bali yang merupakan kolaborasi internasional antara STIKOM Bali, Dr. Edward Herbst (CUNY) dan Arbiter of Cultural Traditions. Program ini telah berhasil memulangkan kembali ‘repatriasi’, memugar dan menyebarluaskan berbagai koleksi rekaman audio dan film yang dibuat di Bali pada masa tahun 1930-an oleh Odeon & Beka, Colin McPhee, Miguel Covarrubias dan Rolf de Maré. (rsn)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment