Guiliano Lomoine (kiri) usai mendengarkan vonis majelis hakim pimpinan Estar Oktavi (bnn/pro)

Denpasar/BaliNewsNwtwork-Bule Jerman bernama Guiliano Lomoine benar-bemar bernasib baik. Bagaimana tidak, pria yang didakwa melakukan penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia, divonis super ringan oleh majelis hakim pimpinan Estar Oktavi, yaitu 18 bulan penjara.

Ini terungkap dalam sidang, Rabu (30/8) yang sudah masuk pada agenda vonis majelis hakim. Memang dalam amar putusannya, majelis sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kadek Wahyudi.

Yaitu menyatakan terdakwa terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan yang menyebabkan korban, Steven Djingga meninggal dunia. Namun majelis hakim tidak sependapat dengan lamanya hukuman yang dituntut JPU terhadap terdakwa yaitu 2,5 tahun penjara.

Majelis memangkas 1 tahun dari tuntan JPU menjadi 1,5 tahun atau 18 bulan penjara.

“Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan,” sebut hakim Estar dalam amar putusnya.

Atas putusannya, JPU Kadek Wahyudi langsung menyatakan banding.

“Kami mengajukan banding yang mulia,” kata Kadek Wayudi.

Sementara dua kuasa hukum terdakwa, Simon Trombine dan Edward Tobing menyatakan pikir-pikir.

Usai sidang, JPU Kadek Wayudi yang ditanya alasan mengajukan banding menjawab, hanya untuk menghindari terdakwa lepas demi hukum, mengingat masa tahanannya sudah hampir berakhir.

“Kalau kami menyatakan pikir-pikir, terdakwa bisa bebas demi hukum karena masa penahanannya berakhir pada tanggal 1 September 2017,” ujar Kadek Wahyudi.

Yang dikatakan Kade Wahyudi memang ada benarnya. Pasalnya, untuk menyikapi putusan hakim, pihaknya harus melaporkan dulu kepada pimpinan. Karena masa tahanan berakhir tanggal 1 September 2017, tidak mungkin jaksa menyatakan pikir-pikir.

“Kalau kita menyatakan banding, kita bisa memohon perpanjangan penahanan ke Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar,” pungkas Kadek Wahyudi.

Seperti diberitakan sebelum, perbuatan terdakwa terjadi pada Selasa tanggal 21 Maret 2007 sekitar pukul 01.00 Wita di depan Paddys Club, Jalan Legian, Kuta, Badung.

Mulanya, korban Steven Djingga sedang bersama saksi Wisno Toni mengunjungi Paddys Club. Sesampai di tempat hiburan malam itu terjadi perkelahian antara korban dan terdakwa yang dipicu karena saling senggol.

Melihat keributan itu, saksi Putu Yadi Wartawan mencoba melerai perkelahian antara korban dengan terdakwa dengan meminta keduanya untuk keluar dari Paddys Club.

Ternyata perkelahian antara korban dan terdakwa tetap berlanjut di luar Paddys Club. Karena belum puas, terdakwa Giuliano Lemoine menghampiri korban Steven Dijingga dan melayangkan bogem mengenai hidung korban.

Dengan satu pukulan itu, korban Steven Djingga langsung jatuh dan kepala belakangnya membentur lantai serta bagian hidungnya mengeluarkan darah.

Korban meninggal pada Sabtu tanggal 25 Maret 2017 sekitar pukul 04.00 Wita setelah mendapat perawatan selama 4 hari di RSUP Sanglah.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment