Reydi Nobel : Usai Kejadian Revo Sempat Jenguk Korban ke Rumah Sakit

Saksi korban Jauhari dan Isra saat memberi kesaksian di muka sidang (bnn/ist)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Sidang perkara penganiayaan yang menyebabkan anggota TNI AD Yanuar Setiawan tewas dan Muhammad Jauhari (korban selamat) dengan terdakwa Revo Ashwari Syah dan Fajar Hamadi, Senin (28/7) berlangsung tertutup.

Sidang berlangsung tertutup karena di antara saksi yang dihadirkan Jaksa Cok Intan Merlanie Dewi dan Ni Luh Oka Ariani Adikarini adalah terpidana kasus yang sama dan masih berstatus sebagai anak-anak.

Ada tujuh orang saksi yang hadir untuk dimintai keterangan. Mereka adalah DKDA, CI, KCA, KTS dan FS serta dua saksi dari pihak korban yaitu Muhamad Jauhari dan Isra.

Menurut salah satu petugas dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) yang bernama Dewi, pada intinya para saksi menyudutkan Revo dan menganggap Revo sebagai pemicu terjadinya kasus penganiayaan yang berujung tewasnya Prada Yanuar Setiawan.

“Revo ini pelaku penendang dan pemukul,” sebut Dewi yang ditemui di luar sidang.

Sementara di tempat yang sama, kuasa hukum kedua terdakwa, Reydi Nobel dan Baginda Sabarani justeru berkata lain.

Menurutnya, fakta yang terungkap dalam persidangan, empat saksi anak itu tidak pernah mendengar, sebelum kejadian terdakwa Revo mengatakan begal.

Kuasa hukum terdakwa, Reydi Nobel dan Baginda Sibarani (bnn/pro)

“Dari kesaksian empat orang saksi anak ini, mereka mengatakan tidak ada yang mendengar Revo teriak begal yang ditujukan kepada korban Jauhari,” sebut pengacara dari kantor RnB Law Firm ini kepada wartawan.

Dikatakan pula, dalam BAP (berita acara pemeriksaan) dan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) memang disebut Revo sempat mengatakan begal. Perkataan begal itu ditujukan kepada korban Jauhari.

“Tapi faktanya, dalam sidang tidak ada yang tahu dan tidak ada yang mendegar Revo mengatakan begal,” ungkap Reydi Nobel yang dibenarkan oleh Baginda.

Dikatakan pula, saksi CI sendiri, yang awalnya mengatakan mendengar Revo mengatakan begal, ternyata tidak demikian. Di muka sidang pimpinan Hakim Made Sukerni saksi CI malah mengaku mengetahui ada begal justru dari terdakwa Fajar.

“Jadi saksi CI tidak mendengar langsung kalau Revo berteriak begal. Saksi mendengar begal justeru dari terdakwa Fajar,” sebut Reydi Nobel.

Menurut Reydi Nobel, fakta yang terungkap dalam persidangan, terdakwa Revo mengaku sempat meminggirkan korban Jauhari yang dalam kondisi tidak sadarkan diri.

“Bahkan terdakwa mengatakan sempat memberi air kepada korban Jauhari,” kata Reydi.

Namum, saat korban Jauhari dikonfirmasi terkait hal ini, korban mengatakan tidak tahu.

“Saya tidak tahu karena saat itu (saat kejadian) saya tidak tidak sadarkan diri,” demikian kata Jauhari sebagaimana diungkap Reydi Nobel.

Kenapa Revo mau “membantu” korban Jauhari? Menurut Reydi dari pengakuan Revo, dia kasihan melihat korban dalam kondisi luka sangat parah.

“Karena Revo melihat luka di tubuh korban cukup parah, dari sana timbul rasa kasihan dari dalam diri Revo,” ungkapnya.

Disebut pula, usai kejadian Revo sempat mendatangi korban Jauhari ke rumah sakit.

“Tapi ini dipersidangan tidak muncul karena tidak ada saksi yang melihat,” beber Reydi Nobel.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment