Lengkapi Data, Pelapor Kasus Ulun Danu Beratan Datangi Mapolres Tabanan

Foto: bnn/nod.

Tabanan/BaliNewsNetwork-Guna melengkapi data dan fakta terkait laporan kasus dugaan penggelapan dana yang diduga dilakukan 5 orang mantan kelian satakan, I Putu Suma Artha yang juga selaku pengugger Pura Ulundanu Beratan mendatangi Kantor Polisi Tabanan, Jumat (25/08).

Putu Suma Artha dimintai keterangan tambahan selalu pelapor sekitar pukul 09.30 Wita. Pada kesempatan itu juga Manajer DTW Ulun Danu Beratan I Wayan Mustika dipanggil sebagai saksi. Mereka didampingi pengacaranya Ni Made Sumiati, bersama 40 orang krama yang berasal dari satakan Pura Ulun Danu Beratan. Dalam pemanggilan ini turut pula hadir Perbekel Desa Candikuning, I Made Mudita.

Kuasa Hukum Putu Suma Artha, Ni Made Sumiati menjelaskan kedatanganya ke Polres Tabanan karena dipanggil oleh penyidik terkait dengan tindak lanjutan laporanya tentang penggelapan dana untuk melengkapi data-data yang mendasari laporan tersebut. “Penguger sekaligus pelapor yang dipanggil terkait laporan penggelapan dana dari tahun 2009 hingga 2016 yang tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh mantan kelian satakan lama,” ujarnya.

Selain penguger, kata Sumiati I Wayan Mustika Manajemen Ulun Danu Beratan juga dipanggil selaku saksi. Karena dana pah-pahan tersebut bersumber dari DTW Ulun Danu Beratan. “Ini baru satu saksi yang dipanggil, nanti akan ada lagi saksi yang dipanggil,” tambahnya.

Lanjutnya, dalam pemanggilan ini, untuk penguger sekaligus pelapor, diperiksa dari pukul 09.30 hingga 15.26 atau selama 6 jam. “Ada sesi istirahat lagi karena satakan juga ikut. Kemudian setelah pukul 13.00 Wita mulai lagi pemeriksaan. Inti dari seluruh pemeriksaan kali ini tindak lanjut dari laporan untuk melengkapi data,” tegas Sumiati.

Sementara itu, I Putu Suma Artha mengatakan, ia dipanggil terkait dengan tindak lanjut laporanya terdahulu tentang penggelapan dana yang dilakukan oleh mantan kelian satakan lama. Ia mengaku diperiksa dari pukul 09.30 Wita dan berakhir pukul 15.26. “Laporanya seputaran penggelapan dana tersebut, meskipun ada yang dijelaskan belum sempurna, karena pada tahun 2009 sampai 2016 saat itu ia sebagai krama, dan baru jadi penguger pada tahun 2016,” tuturnya.

Dugaan penyelewengan dana pah-pahan DTW Ulun Danu sebesar Rp 37 M diduga dilakukan oleh pengurus satakan yang dinonaktifkan. (nod)

 

Editor: Ni Ketut Budiantari

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment