Petrus Pati Belile,  Putra Adonara Ini Berkarir di Kapal Pesiar

Petrus Pati Belile pose di Kopenhagen, Denmark, saat kapal pesiar MS Rotterdam sandar. BNN/IST

Saat ini sekitar 4000 anak muda Bali bekerja di kapal pesiar luar negeri. Berbeda dengan NTT, anak muda  yang memilih bekerja di kapal psiar masih bisa dihitung dengan jari. Dari yang sedikit itu, salah satunya adalah Petrus Pati Belile. Pria kelahiran Desa Lewo Bunga, Adonara Timur, Flores Timur,  30 September 1972, ini sudah 10 tahun berkarir di kapal pesiar Holland America Line. Berikut kisahnya.

Rahman Sabon Nama – Denpasar

Denpasar/BaliNewsNetwork-Petrus Pati Belile atau akrab dipanggil Piet, adalah satu dari sedikit anak muda NTT yang bekerja di kapal pesiar luar negeri. Piet bisa menagkap peluang ini karena sebelumnya dia sudah malang melintang di Singaraja dan Denpasar. Dari sinilah Piet bercita-cita kerja di luar negeri.

Dia menamatkan SD di kampungnya, lalu melanjutkan ke SMP Lembah Kelapa di Kiwang Ona, tetangga kampungnya. Setelah itu Piet merantau ke Singaraja dan melanjutkan pendidikan di SMIP Singaraja, mengikuti anjuran kakaknya, Wilem Wara yang sudah menjadi polisi di sana.

Piet bernasib baik. Setamat dari SMIP Singaraja 1996, dia diterima kerja di  Hotel Bali Padma, Legian. Dari situlah dia berkenalan dengan seorang pria Jepang yang sudah  dianggap sebagai orangtuanya. Bahkan kakek Jepang ini pernah memfasilitasi Piet berliburan di Jepang.

Sambil bekerja di hotel, Piet memanfaatkan waktu luang untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Program Studi Bahasa Inggris Universitas Warmadewa Denpasar dan tamat 2003.

Petrus Pati Belile di Rusia

Berbekal kemampuan berbahasa Jepang dan Inggris itulah Piet mulai ancang-ancang bekerja di luar negeri. Pilihannya adalah kapal pesiar. Apalagi saat itu di Bali sedang booming TKI profesional asal Bali dengan back ground horeka atau hotel, restoran dan kafe yang sangat dibutuhkan kapal pesiar di luar negeri.

Dari sekian banyak agent perusahaan kapal pesiar, Piet memilih Holland America Line, yang berkantor pusat di Seatle, Washington DC, Amerika Serikat yang memiliki cabang di Bali dan Jakarta.

Piet yang sudah berpengalaman di hotel ditambah kemampuan berbahasa Inggris dan Jepang, tak mengalami kesulitan berarti ketika mengikuti test Holland America Line. Setelah lulus, Piet dan kawan-kawan diharuskan mengikuti pendidikan khusus kapal pesiar selama tiga bulan lagi Jakarta sebelum diberangkan ke luar negeri.

“Waktu itu, biayanya hanya 500 dollar, tapi bisa bayar setengah dulu, setengahnya lagi nanti potong gaji di kapal. Selama pendidikan itulah pihak perusahaan mengurus semua dokumen keimigrasian,” ujar Piet ketika bertandang ke rumahku, Kamis, 17 Agustus 2017, pagi.

Selesai pendidikan dan begitu visa keluar, pihak perusahaan sudah menyiapkan tiket pesawat Denpasar – Rotterdam. Pada 4 Juli 2007, Piet terbang dari Jakarta ke Rotterdam dengan transit di Doha (Qatar). Kebtulan kapal yang bakal dinaiki Piet adalah MS Rotterdam (group Holland America Line) yang saat itu homeport di Rotterdam, Belanda.

Kapal mewah berlantai (dek) 12 bak hotel itu memuat 2700 penumpang dengan 1500 crew.

“Dari 1500 crew itu, terbanyak dari Bali sekitar 300 orang, urutan kedua Jawa dan ketiga Sumatera. Kalau kita NTT hanya 10 orang, itu juga karena mereka lahir besar di luar sehingga tahu peluang kerja seperti ini,” beber Piet.

Petrus Pati Belile di Rusia

Istri dari Maria Tuti Tara yang kini memberinya tiga anak perempuan ini melanjutkan, sebenarnya peluang kerja di kapal pesiar bagus sekali, hanya saja orang NTT rata-rata tidak sabaran menunggu proses.

Sebab untuk bekerja di kapal pesiar, selain syarat utama pengalaman profesi tertentu seperti dunia perhotelan dan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, juga dibutuhkan pengalaman pendukung dari dunia kemaritiman seperti BST alias basic safety training. Dengan catatan, calon  peserta sudah lolos dari tes kesehatan.

“Biasanya kita gagal di sini. Sekali test tidak lulus, kita sudah patah semangat. Berbeda dengan teman-teman dari Bali, ada yang test sampai 3-4 kali baru lolos ke kapal pesiar,” kata Piet yang baru tiba di Bali, Senin (14/08/2017) dari Kopenhagen, Denmark.

“Kalau gagal bahasa Inggris, mereka akan kursus lagi sampai pinter. Kalau pengalaman kurang, meraka akan training lagi di hotel,” terang Piet menggambarkan keuletan teman-temannya dari Bali dalam proses rerkrut ini.

Kini, Piet yang mengawali karirnya mulai dari yang paling bawah yakni bagian GPA atau General Purpose Attendant  – lalu naik ke Night Steward, kemudian Assistant Cabin, dan sekarang menempati posisi State Room Attendant. Salah seorang asistennya adalah putra Ende, NTT.

Petrus Pati Belile di Konpenhagen, Denmark

Meski enggan menyebut berapa gajinya, tetapi asset rumahnya di Bali bisa menjadi ukuran penghasilan Piet selama malang melintang di kapal pesiar.

Menurutnya, bekerja di mana saja pasti ada resikonya. Di kapal pesiar, resiko terbesar adalah menaklukan gelombang laut. Piet merasakan hal ini setip kali kapalnya melintasi perairan Cape Horn Chili, tepatnya selama pelayaran dari Chili ke Argentina atau sebaliknya.

“Setiap kali lewat di situ kapal pasti oleng keras. Bayangkan, kapal 12 tingkat itu seperti gak ada-apanya,” beber Piet, yang sempat jadi guru Bahasa Inggris di SMA Surya Mandala dan MA Wai Werang tahun 2004-2005 ini.

Bekerja di kapal pesiar memang memiliki pengalaman berbeda. Kita bisa mengunjungi semua negara yang menjadi rute kapal tersebut. Rute untuk MS Rotterdam adalah Karibia (Amerika Latin), Baltik (Eropa) dan Iceland (kutub utara). Satu rute (cruiser) adalah 12 hari. Setiap sandar, biasanya dari pukul 08.00 – pukul 17.00 waktu setempat. Nah durasi waktu inilah yang dimanfaatkan para crew untuk refreshing ke kota yang disinggahi.

Dalam setahun, bekerja di kapal pesiar hanya selama 9 bulan, para crew mendapat cuti selama 3 bulan. Tiket PP dan uang saku diberikan oleh perusahaan.

Lalu sampai kapan Piet bekerja di kapal pesiar?

“Jujur, kerja di kapal pesiar itu enak. Selain bisa jalan-jalan gratis ke luar negeri, gaji juga lumayan. Saya sudah merasakan, makanya perpanjang kontrak sampai 10 kali dan akan perpanjang terus 10 kali lagi, mumpung anak-anak saya masih kecil.  (*)

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment