Kampung Tak Bersinyal, Warga Lewo Awang Flores Timur Telepon Menggunakan Tempurung Kelapa

Disaksikan suaminya Yohanes Sira Kawuta, Maria Sabu Uran sedang menelepon menggunakan media tempurung kelapa sebagai penangkap sinyal. BNN/Emnir

Ile Bura/BaliNewsNetwork.com-Tak ada rotan, akar pun jadi. Demikianlah upaya  warga dusun Burnilan,  Desa Lewo Awang, Kecamatan Ile Bura menangkap sinyal dengan media tempurung kelapa agar dapat berkomunikasi dengan warga di luar kampung yang belum terjangkau  sinyal telepon genggam itu

Sebagaimana yang dituturkan pasangan suami istri Yohanes Sira  Kawuta (41) dan Maria Sabu Uran (39) kepada BaliNewsNetwork.com, Sabtu (12/8) akses komunikasi handphone (HP) hanya bisa dilakukan apabila HP diletakan dalam tempurung.

“Kampung kami memang tidak memiliki sinyal. Mula-mula saya kaget ketika bergerak ke areal (pohon) asam ini-sekitar 6 langkah dari rumahnya-tiba-tiba saya dikejutkan dengan bunyi nada dering sms. Namun ketika saya membukanya, sinyal langsung menghilang. Oleh karena itu saya lantas menancapkan tempurung di atas kayu dan meletakan HP di dalam tempurung itu. Ternyata setengah jam kemudian sinyal full dan saya pun menelpon suami saya yang sedang ada di Malaysia dengan aktifkan speaker atau headset tanpa memegang HP. Bila HP dipegang atau berpindah dari tempurung, otomatis sinyal langsung menghilang,” papar Maria Sabu Uran, mengulas betapa sengsaranya mereka berkomunikasi dengan alat komunikasi di kampung tak bersinyal itu.

Wentho Eliandu mencoba telepon tempurung,

Usaha Maria Uran tersebut pun akhirnya diketahui warga lainnya dan terjadilah warga pun berbondong-bondong datang ke situ walau harus antri menggunakan jasa tempurung kelapa tersbut. Tanpa tempurung, HP tidak dapat berfungsi.

Kepala Desa Lewo Awang Yohanes Wolo Tobi yang dikonfirmasi di lokasi “tempurung bersinyal” tersebut melukiskan betapa menderitanya ke-305 Kepala Keluarga dalam kampung tersebut ketika berkomunikasi dengan dunia luar.

Kades Lewo Awang Yohanes Wolo Tobi

Kadang mereka harus menghabiskan waktu mereka, bergerak menuju kampung tetangga yang bersinyal  hanya untuk berkomunikasi dengan anggota keluarganya baik di tempat rantau maupun yang sedang mengenyam pendidikan di luar kampung mereka itu. Namun setelah mengetahui usaha dari istri Yohanes Sora Kewuta ini, warga lalu membanjiri areal ini dengan menggunakan jasa tempurung.

“Kami sangat mengharapkan sentuhan pemerintah untuk mengakhiri derita kami ini. Kami siap menyerahkan lahan untuk pembangunan tower. Kesulitan terbesar bagi kami saat ini adalah akses informasi dan komunikasi. Walaupun desa tak bersinyal, namun kami memiliki website pemerintah desa Lewo Awang. Sayangnya, akses website hanya dapat berjalan ketika kami berada di wilayah bersinyal baik,” beber Yohanes Wolo Tobi meratapi kondisi sulit di kampungnya itu. (Emnir)

Editor: Rahman Sabon Nama

Berita Terkai:

Panji Agustino: Permukaan Tempurung Kelapa yang  Padat dan Bentuknya Melengkung Memungkinkan Memberikan Pengaruhi Terhadap Proses Penerimaan Sinyal

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment