Jaga Kebersihan WBD, Jatiluwih Bangun TPS 3 R Seluas 10 Are

Kawasan DTW Jatiluwih. Foto: bnn/ram.

Tabanan/BaliNewsNetwork-Kebersihan menjadi hal yang mutlak bagi kawasan Jatiluwih yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) oleh UNESCO. Berkaitan dengan hal tersebut, pihak Daya Tarik Wisata Jatiluwih tengah membangun Tempat Pembuangan Sampah  Reuse, Reduce, Recycle (TPS 3 R).

TPS 3 R seluas 10 are itu tengah dibangun di Banjar Kesambahan Kelod, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan. Hal itu diungkapkan oleh Manajer DTW Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa, Selasa (01/08). Dikatakanya, pembangunan TPS 3 R yang pembangunannya dimulai awal bulan Juli 2017 ditargetkan tuntas 5 hingga 6 bulan kedepan. Dimana pembangunan TPS 3 R tersebut menggunakan anggaran dari APBD Induk 2017 Pemkab Tabanan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan sebesar kurang lebih Rp 700 Juta. “Dalam pembangunan TPS 3 R ini akan ada dua bangunan yang ukurannya sekitar 6 x 15 meter yang fungsinya sebagai tempat pemilahan sampah dan kantor ditambah tempat parkir,” jelasnya.

Sementara itu Perbekel Jatiluwih I Nengah Kartika menambahkan, Desa Jatiluwih juga telah menyusun Peraturan Desa (Perdes) tentang Kebersihan, Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam Perdes yang mengatur tentang kebersihan lingkungan dan sampah tersebut juga berisi sanksi yang harus dijalani apabila ada warga yang melanggar.

“Tentu tujuan kita adalah agar kita memiliki payung hukum yang pasti terkait kebersihan lingkungan hidup kita khususnya di Desa Jatiluwih,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kartika menjelaskan dalam Perdes dicantumkan mengenai sejumlah aturan, mulai dari setiap warga harus melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik dirumah masing-masing sebelum nantinya sampah diambil seminggu tiga kali oleh petugas sampah, larangan membuang sampah dan buang air besar (BAB) pada saluran pengairan, sungai dan tempat terbuka, larangan menggunakan pestisida secara berlebihan oleh para petani, larangan masuknya pemulung, hingga kewajiban memiliki septic tank bagi warga Desa Jatiluwih serta pengusaha restoran, warung, penginapan dan lainnya.

“Kebetulan untuk warga Desa Jatiluwih sudah 100 persen memiliki septic tank, dan untuk pengusaha restoran, warung atau penginapan memang kita himbau untuk membuat septic tank sehingga limbah cair tidak dibuang ke saluran air. Begitu juga dengan petani yang memiliki ternak, dan itu sudah menjadi komitmen kita bersama,” lanjutnya.

Pihaknya juga memberlakukan sangsi bagi yang melanggar. Berupa denda nominal Rp 25.000 hingga Rp 75.000. Dan apabila pelanggar tidak mau membayar denda maka sanksi yang harus diterima adalah tidak akan dilayani permohonan administrasi apapun oleh Pemerintah Desa Jatiluwih. “Kami melibatkan petugas Linmas dibantu pecalang dan perangakat desa prajuru adat dalam hal pengawasan,” pungkasnya. (ram)

Editor: Ni Ketut Budiantari

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment