Disidang Terpisah, Anak Anggota Dewan Terancam 7,5 Tahun Penjara

Para pelaku dikawal ketat Polisi saat menuju ruang sidang di PN Denpasar (bnn/pro)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Sidang perdana kasus penganiayaan yang menyebabkan korban seorang anggota TNI-AD Prada Yanuar Setiawan (20) meninggal dunia, Senin (31/7) digelar di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Ada empat pelaku yang semuanya masih anak dibawah umur yang diadili.

Mereka adalah ; DKDA (pelaku utama penusukan) yang tidak lain adalah anak oknum anggota DPRD Bali, dan tiga rekanya masing-masing berinisial KCA, IC, dan KTS. Karena disebut sebut sebagai pelaku utama (penusuk korban) DKDA disidang terpisah dari tiga rekanya. Tak hanya itu, Pasal yang didakwakan untuk DKDA juga tidak sama persis dengan pelaku lainya.

Karena diduga sebagai pelaku utama, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Citra Mayasari selain menjerat dengan Pasal 170 KUHP, juga menjerat DKDA dengan Pasal 338 KUHP yang ancaman hukuman maksimalnya adalah 7,5 tahun penjara.

Para pelaku usai menjalani persidangan (bnn/pro)

Para pelaku usai menjalani persidangan (bnn/pro)

Sementara untuk ketiga rekanya, masing-masing dijerat dengan Pasal 170 ayat (2) atau Pasal 170 ayat (2) ke 1 KUHP Jo UU RI Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak. Selain DKDA, IC juga juga disidang terpisah dari rekanya. Tapi usai menjalani sidang sendiri, IC kembali disidang bersama dua rekanya, yaitu KCA dan KTS.

Meski disidang secara terpisah, namun untuk majelis hakim yang menyidangkan semua dipimpin oleh Hakim Agus Walujo Tjahjono dengan anggota, Wayan Kawisada dan Made Sukereni.

Sementara dalam dakwaan JPU terungkap, kasus pengeroyokan yang mengakibatkan Yanuar Setiawan tewas ini terjadi di Jalan Bypass Ngurah Rai atau tepatnya di dekat Halte Pertigaan Perum Taman Griya, Jimbaran, Kuta Selatan (Kutsel),  Badung, pada Minggu (9/7) sekitar pukul 04.30.

Korban Yanuar Setiawan, bersama pelapor Isro Mihardi serta empat teman lainnya, yakni Stefanus Iman, Tegar Ananta Hadi, Muhammad Jauhari dan Munajir berencana jalan-jalan ke Kuta.  Sempat jalan-jalan,  sekitar pukul 04.00, korban bersama temannya pulang ke rumah Isro di Jalan Pratama Gang I Lingkungan Celuk, Benoa, Kutsel.

Selanjutnya ditengah perjalanan tiba-tiba disalip CI yang saat itu membonceng DKDA. Keduanya memutar kembali kendaraanya karena topi CI jatuh. Pada saat CI memutar kendaraan itulah nyaris tertabrak oleh oleh Stefani dan Munajir.

Sempat ditegur,  kemudian mereka lanjut. Namun sampai di TKP di dekat Halte Perum Taman Griya, mereka kembali bertemu dan senpat berpandangan. Tak terima dengan teguran Munajir tersangka Revo kemudian mengajak Munajir dan stefani berkelahi.

Namun Stefani tidak menggubris ajakan itu dan terus memacu motor dengan kencang. Sempat berupaya mengejar, namun gagal. Akhirnya ia menunggu korban. Morban yang ada dibelakang kemudian tak terima karena motor pelaku menghalangi japanya dan sempat berupaya memukul Revo namun meleset.

Melihat Revo berkelahi, CI yang membonceng DKDA kemudian membantu Revo dan mengeroyok korban. Selanjutnya DKDA mendorong dan menusuk korban dengan sajam dan korban pun terjatuh diatas trotoar. Setelah korban jatuh, DKDA pergi.

Sedangkan teman korban Jauhari dan Tegar yang saat itu masih ada dibelakang dan melihat korban sudah terjatuh, berusaha menanyakan kondisi korban ke pelaku. Pelaku Revo yang tak terima saat ditanya kemudian mencekik dan bahkan sempat memukul Jauhari hingga mengalami luka yang cukup serius.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment