Didatangi Dirjen PRL KKP,  Nelayan Lamakera Kapok  Tangkap Pari Manta

Akbar H. Usman, nelayan asal Lamakera, Dirjen PRL KKP Indonesia, Bramantya Satyamurti Poerwadi dan Bupati FLotim Antonius Gege Hadjon meninjau  PPI Amagarapati, Larantuka,Selasa (25/7)

Larantuka/BaliNewsNetwork.com-Ketegasan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia  terkait dengan koservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya sebagaimana yang telah diatur dalam UU No. 5 Tahun 1990 serta berbagai rujukan teknisnya, terutama  berkaitan dengan perlindungan  jenis ikan Pari Manta, mampu mematahkan argumentasi  tradisi (budaya) yang selama ini menjadi pembenar tindakan nelayan Lamakera, Solor, Timur, untuk menabrakan aturan tersebut guna menangkap ikan Pari Manta.

Sebagaimana yang disaksikan BaliNewsNetwork.com pada Selasa (25/7), Akbar H. Usman, salah satu tokoh nelayan asal Lamakera langsung berdialog dengan Direktorat Jenderal (Dirjen  Pengelolaan Ruang Laut (PRL) KKP Bramantya Satyamurti Poerwadi di sela-sela peninjauan areal PPI Amagarapati, Larantuka.

Ihwal larangan penangkapan Pari Manta  yang bertabrakan dengan budaya masyarakat Lamakera itu pun langsung dicecarkan kepada B.S Poerwadi yang sedang didampingi oleh Bupati Flotim Anton Gege Hadjon, ST, Ketua DPRD Yosep Sani Betan dan Kadis Perikanan Flotim Ir. Erna Dasilva itu.

Gaya komunikasi yang tak berjarak, sebagaimana karakter  khas seorang Dirjen PRL  KKP  berakhir pada keputusan “pertobatan” Akbar H.Usman. Dengan ramah, Poerwadi menjelaskan latar belakang larangan tersebut sembari mengarahkan para nelayan untuk berpikir jernih  tidak  larut menghabiskan waktu melakukan penangkapan terhadap biota laut yang telah dilindungi oleh negara itu.

“Ibu Menteri Susi selalu bilang, masih ada banyak jenis ikan yang dapat ditangkap. Tangkaplah ikan-ikan jenis lain itu. Kita akan membantu dengan sarana tangkap yang ramah lingkungan. Karena telah dilindungi, Pari Manta  memang tidak boleh ditangkap. Laut kita kaya akan ikan. Tangkaplah ikan-ikan yang lain itu. Kita siap bantu dengan sarana tangkap,” ujar Dirjen PRL itu dengan ramah.

Bramantya Satyamurti Poerwadi bahkan langsung menawarkan  keinginannya kepada Akbar H.Usman untuk tinggal bersama penduduk Lamakera, seminggu lamanya.

Terhadap penjelasan Poerwadi tersebut, H.Usman pun berjanji  tidak lagi menangkap Pari Manta dan berjanji  akan menjadi pelopor di desanya dalam gerakan stop tangkap Pari Manta.

“Kami sangat setuju dengan tawaran Pak Dirjen ini. Intinya kami dibantu dengan sarana tangkap, entah Lempara atau Gillnet dan sarana tangkap lainnya yang dapat kami gunakan untuk menangkap  ikan lain menggantikan Pari Manta. Dan serius, hari ini saya katakan bertobat penuh untuk tidak menangkap Pari Manta,” ucap Akbar H. Usman  seraya menambahkan siap menjadi pelopor gerakan stop tangkap Pari Manta. (Emnir).

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment