Mahasiswa Universitas PGRI Kupang Ancam Terima ISIS di NTT

Polisi menenangkan mahasiswa Universitas PGRI Kupang yang demo di gedung DPRD menyusul pencabutan izin operasional Universitas PGRI oleh Menristek Dikti. BNN/Amar Ola Keda

Kupang/BaliNewsNetwork-Kelompok mahasiswa yang menamakan diri Forum Mahasiswa Universitas PGRI Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengatakan siap menerima kelompok intoleran dan radikal, Islamic State of Iraq and Syriah (ISIS).

Alasan kelompok mahasiswa ini menerima ISIS lantaran mereka menilai Rezim Jokowi-JK, Gubernur Frans Lebu Raya dan DPRD NTT telah gagal memperjuangkan nasib Universitas Persatuan Guru 1945 dan Universitas Arasatiya Deo yang sebelumnya bernama Universitas PGRI itu.

Salah satu mahasiswa dalam orasinya mengatakan, pemerintah dan DPRD telah mengkerdilkan nasip anak bangsa sebagai aset negara. Ia mengancam, jika Pemerintah Indonesia tidak mampu menerima setiap tuntutan untuk mengalihkan mahasiswa dari dua kampus pecahan PGRI itu ke kampus lain, maka kelompok mahasiswa PGRI siap menduduki gedung DPRD NTT bahkan menerima ISIS dalam aksi mereka.

“Jika pemerintah hanya berorintasi pada kepentingan modal, maka hal tersebut bukan sebagai upaya mencerdaskan bangsa, namun pembodohan terhadap generasi bangsa,” tegas korlap aksi,  Apris Mali.

Rektor Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT, David RE. Selan yang dikonfirmasi terkait demo yang digelar eks mahasiswa Universitas PGRI NTT mengemukakan, bagi pihaknya masalah Universitas PGRI NTT telah selesai.

Dualisme kepemimpinan yang terjadi dahulu sudah selesai juga. Hal ini terjadi, karena pihaknya maupun pihak sebelah (PGRI versi Anton Kato), sudah mendapat masing-masing izin operasional dari Menristekdikti.

Dengan terbitnya izin tersebut, maka Universitas PGRI NTT yang dahulu, dinyatakan ditutup secara resmi.

?

Demo mahasiswa Univ PGRI di DPRD NTT

Terkait dengan demo dari mahasiswa di DPRD, dia mengemukakan, itu merupakan hak mereka. UPG 45 NTT terbuka untuk semua mahasiswanya yang datang untuk menyelesaikan studi. Walau demikian pihaknya akan meneliti terlebih soal proses pendidikan yang telah ditempuh.

Dalam izin operasional yang diterima pihaknya, pihaknya wajib melakukan migrasi mahasiswa Universitas PGRI NTT ke UPG 1945. Dan pihaknya akan mematuhi ketentuan itu.

“Demikian juga mahasiswa yang belum kembali ke kampus saat ini. Kita siap migrasi dan mulai melakukan perkualiahan seperti biasa,” paparnya.

Pada Senin mendatang, imbuh David Selan, pihaknya akan ke Kemenristekdikti untuk menerima password Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT). Dengan keluarnya password  PDPT itu, maka pihaknya mulai melakukan migrasi data mahasiswa.

“Bagi mahasiswa yang tidak ingin melanjutkan studinya di UPG 45, bagi kami tidak masalah,” pungkasnya.

Pantauan wartawan, hingga saat ini mahasiswa masih bertahan di Gedung DPRD NTT. (Amar Ola Keda)

Editor: Rahman Sabon Nama

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment