15 Bangunan Liar di Padang Galak Dibongkar – Diduga Jadi Tempat Prostitusi

Alat berat menggusur bangunan  liar yang ditengarai bakal sebagai tempat prostitusi di Padang Galak. BNNS/ID

Denpasar/BaliNewsNetwork-Sedikitnya 15 bangunan liar semi permanen di kawasan pantai Padang Galak, Kesiman Petilan, Denpasar Timur dibongkar Satpol PP Kota Denpasar, Rabu (5/7) pagi. Dengan luas sekitar empat hektar kawasan Pantai Padang Galak dibongkar rata menggunakan dua alat berat.

“Langkah pembongkaran telah melalui prosedur melayangkan surat teguran satu hingga teguran dua kepada pemilik bangunan,” ujar Kepala Bidang Perundang-undangan Satpol PP Denpasar Made Poniman, di lokasi.

Hal ini tak terlepas dari status tanah dan pendirian bangunan yang tidak dilengkapi dengan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di kawasan pantai Padang Galak. Para pemilik, ujarnya, tidak mengindahkan surat teguran, dan kali ini Tim Yustisi bersama masyarakat desa setempat melakukan tindakan tegas dengan menggusur  bangunan liar tersebut.

Pasalnya Pantai Padang Galak juga kerap dijadikan tempat bersembahyang bagi umat Hindu.

“Langkah ini juga dilakukan bersama pihak Desa Kesiman Petilan dengan keputusan parum desa adat untuk memberhentikan dan membongkar 15 pembangunan liar ini,” ujarnya.

Bangunan liar di Padanggalak dibongkar

Bangunan liar di Padang Galak dibongkar

Sementara Perbekel Desa Kesiman Petilan Wayan Mariana mengatakan langkah pembongkaran bangunan liar ini telah melalui proses dari Pemkot Denpasar serta paruman (rapat adat) Desa Kesiman Petilan.

“Masyarakat Desa Kesiman Petilan sangat mengeluhkan pembangunan liar ini, sehingga kami lakukan langkah koordinasi dengan Pemkot Denpasar dan melakukan tindakan pembongkaran kali ini,” ujarnya.

Sekretaris Bendesa Adat Kesiman I Nyoman Gede Widarsa mengatakan pantai Padang Galak sebagai kawasan suci tempat melasti bagi umat Hindu.

Disebutkan, dilihat dari bentuk bangunan yang  semi permanen,  diduga akan dijadikan tempat prostitusi. Karenanya  tuntutan masyarakat Kesiman Petilan agar segera melakukan pembongkaran.

“Warga mengeluhkan bangunan liar ini dan lewat keputusan paruman desa, kawasan ini dijadikan sebagai kawasan suci, sehingga langkah koordinasi dengan Pemkot dilakukan yang dilanjutkan dengan pembongkaran,” ujarnya.

Sementara salah satu pemilik bangunan, Narka mengaku tak mempermasalahkan pembongkaran ini.

“Saya telah mengetahui kesalahan membangun di kawasan ini, sehingga saya berusaha membongkar sendiri bangunan ini,” ujarnya.

Lain halnya Amsori asal Jember yang meminta waktu untuk pembongkaran sendiri lokasi warung yang berada di kawasan ini.

Ia mengaku baru membangun warung semi permanen dan siap akan membongkar sendiri sehingga bahan bangunan ini bisa kami gunakan kembali.

“Kasih kami waktu untuk membongkar sendiri,” ujarnya

Pembonngkaran dilakukan oleh Tim Yustisi Pemkot Denpasar terdiri dari TNI, Polri, Kejaksaan, Pengadilan dan Pol PP Denpasar. Pembongkaran tampak dihadiri puluhan masyarakat desa setempat dengan berpakaian adat madya. (Sid)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment