Kisah Yeri Tosi, Pria Cacat Berjuang Hidup di Bengkel Tua

Yeri Tosi di bengkelnya. BNN/Amar Ola Keda

Kupang/BaliNewsNetwork-Semua manusia menginginkan untuk dilahirkan normal, seperti halnya Yeri Tosi (30) warga RT 6 RW 3, Kelurahan Alak, Kecamatan Alak Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Pria kelahiran 1987 ini lahir dari keluarga sederhana dengan kondisi fisik normal tanpa cacat. Tumbuh di keluarga sederhana, membuat Yeri sejak masih duduk di bangku SMA sudah membanting tulang bekerja di salah satu bengkel motor.

Demi keluarganya, di tahun 2006, Yeri nekad merantau ke Jakarta mencari pekerjaan sebagai karyawan di salah satu perusahaan milik swasta.

Namun, di tahun 2008 malapetaka menimpa Yeri. Saat itu sepulang kerja, Yeri dibonceng  temannya menuju kontrakannya. Dalam perjalanan, sepeda motor yang ditumpangi Yeri bertabrakan dengan kereta api. Yeri bersama temannya mengalami luka parah hingga tak sadarkan diri. Sepeda motor yang mereka gunakan hancur digilas kereta.

Setelah dua hari tak sadarkan diri di ruang ICU, Yeri pun siuman. Namun, kedua kaki Yeri tak bisa diselamatkan. Atas persetujuan keluarga, kaki Yeri diamputasi. Sejak saat itu, pria pekerja keras itu terganung dari kursi roda sebagai pengganti kakinya.

Mimpi membahagiakan orang tua pudar seketika. Yeri sempat depresi, merasa terasing bahkan berniat mengakhiri hidupnya.

“Saya stres dan luapkan dengan mabuk-mabukan. Saya tidak terima dengan kondisi saya. Apalagi saat melihat orang lain berjalan, hati saya terlalu sakit,” tutur Yeri kepada wartawan, Sabtu (1/6/2017).

Di saat batinnya sedang terpuruk, di suatu malam saat sedang tertidur, Yeri mengaku mengingat seseorang yang memintanya untuk segera bangkit dari keterpurukan, Dialah, Tuhan.

“Saya berdoa kepada Tuhan dan doa saya dikabulkan. Lewat doa saya kuat dan berjuang menerima takdir, berjalan di atas kursi roda,” imbuh Yeri.

Setelah beberapa bulan belajar menggunakan kursi roda, Yeri akhirnya berhasil dan memulai hidup baru. Dengan berbekal modal sedikit dari adiknya, Yeri nekad membuka usaha tambal ban, persis di pinggir jalan umum.

Meski cacat, usaha yang ditekuninya tidak seperti pekerja lainnya, karena bengkel tambal bannya dibuka 24 jam. Selain menjadi tempat untuk mencari nafkah, Yeri pun menjadikan bengkel sebagai pengganti rumahnya. Yeri rela tidur di bengkel beralas tikar, menunggu pengendara yang membutuhkan jasanya.

“Tuhan sudah atur berkat kita, meski cacat saya tidak butuh belas kasih dari orang lain. Saya bangga karena uang yang saya dapat adalah hasil keringat saya. Uang itu saya serahkan ke ibu untuk membeli keperluan hidup kami sehari-hari,” kata Yeri.

Yeri mengaku sudah sering didata oleh Dinas Sosial Kabupaten Kupang sebagai salah satu kaum disabilitas yang menerima bantuan dari pemerintah. Namun, hingga kini tak ada kabar sedikitpun bahkan tak pernah sedikitpun bantuan yang diterimanya.

“Saya tidak mau lagi didata petugas Dinsos, karena tidak ada bantuan sama sekali hingga detik ini,” pungkas Yeri. (Amar Ola Keda)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment