Kearifan Lokal adalah Nafas Toleransi Masyarakat NTT  – Oleh Pastor Kopong Tuan MSF

Pastor Amatus Witak (Pastor Paroki Bunda Pembantu Abadi) Witihama menyalami umat Islam yang datang memberikan “sumbangan” (tradisi talin-dalam bahasa Adonara) mereka sehari menjelang Pemberkatan Gereja Paroki Paroki Bunda Pembantu Abadi- Witihama-Adonara Timur-Flores Timur-NTT. BNN/IST

———————————————————————————

Membangun Indonesia damai dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Toleransi dalam keberagaman tidak hanya terjadi dipusat-pusat kota, tetapi juga dihidupi dan diwujudnyatakan oleh masyarakat pedesaan. Justru harus diakui bahwa kuatnya toleransi di pusat kota justru merupakan buah dari erat dan kuatnya toleransi yang ada di daerah pedesaan.

NTT adalah provinsi yang sangat kuat dengan toleransi. Kuatnya toleransi di seluruh wilayah NTT, dikarenakan oleh kuatnya kearifan lokal yang hidup dalam diri seluruh masyarakat NTT. Kearifan Lokal bagi masyarakat NTT adalah perekat persaudaraan dan kekeluargaan yang dijunjung tinggi dan menjadi bagian hakiki dari kehidupan masyarakat NTT di manapun berada.

Kearifan Lokal yang hampir sama di seluruh wilayah NTT adalah Solidaritas. Saling membantu dan bergotong royong. Ketika umat Islam membangun mesjid, maka umat beragama lain seperti Katolik dan Protestan ikut membantu. Demikian juga ketika umat Katolik atau Protestan membangun gereja, umat Islam ikut membantu. Satu hal yang menarik adalah ketika peresmian gereja atau mesjid, semua masyarakat baik umat Katolik, Protestan, Islam dan lainnya datang membawakan besar, kopi, gula dan hewan sebagai ungkapan bahwa mesjid ataupun gereja adalah milik bersama yang harus dijaga.

Bahasa simbolik dari ungkapan gereja dan mesjid adalah milik bersama dimaknai secara konkrit dalam tindakan nyata yaitu menjaga kekeluargaan satu sama lain apapun agamanya.

Kuatnya toleransi di wilayah NTT tidak terlepas dari bahasa-bahasa bijak nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun dalam setiap generasi NTT, yang menjadi nafas solidaritas dan toleransi di NTT. Satu ungkapan yang menjadi daya perekat kebersamaan dan kekeluargaan yang kemudian diwujudnyatakan dalam tindakan solidaritas adalah; “Kebahagiaanmu, adalah kebahagiaan kami, kesusahanmu adalah kesusahan kami”.

Masyarakat NTT tidak pernah belajar toleransi di bangku sekolah, tetapi kearifan lokal yang sudah dihidupi dan dilaksanakan turun temurun menjadi sekolah untuk menjaga dan mempertahankan toleransi, solidaritas dan gotong royong dalam kehidupan bersama. Bagi masyarakat NTT toleransi adalah tindakan bukan kata, toleransi tidak bisa diganggu gugat karena sudah menjadi warisan nenek moyang yang harus dilestarikan.

Beberapa kegiatan harian yang bisa menjadi oase dan universitas toleransi dari masyarakat NTT bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal di setiap daerah sebagai nafas toleransi bagi bangsa Indonesia, merupakan terjemahan konkrit dari ungkapan “Kebahagiaanmu, adalah kebahagiaan kami, kesusahanmu adalah kesusahan kami”.

Pastor Amatus Witak bersama umat Islam Witihama, Adonara, Flotim

Pastor Amatus Witak bersama umat Islam Witihama, Adonara, Flotim

Sebagai contoh di Kabupaten Flores Timur. Pada peringatan seabad Tua Ama di Larantuka yang merupakan peringatan salah satu kegiatan iman umat Katolik yang biasa dilaksanakan pada setiap Jumad Agung (peringatan sengsara Tuhan Yesus), meski secara ritus itu adalah ritus Katolik, namun tetap menjadi kebanggaan dan milik semua umat beragama. Umat Islam dari Kampung Baru (Larantuka)melakukan “talin” di mana mereka datang membawa beras, kopi, gula dan menyumbang sekitar lima ekor sapi untuk Keuskupan Larantuka sebagai pelaksana perayaan seabad Tua Ma untuk dikonsumsi bersama. Demikian juga seperti yang terjadi di Paroki Bunda Pembantu Abadi- Witihama-Adonara Timur-Flores Timur-NTT. Umat muslim mengadakan “talin” dengan membawa kebutuhan pokok termasuk hewan sebagai konsumsi bersama pada perayaan syukur permberkatan Gereja Paroki Witihama.

Demikian juga ketika ada pentahbisan Imam hingga penjemputan dan pelaksanaan misa perdana, atau pemberkatan gereja semua masyarakat di desa setempat sejenak “meliburkan” pekerjaan mereka untuk merayakan peristiwa syukur dalam kegembiraan dan sukacita. Umat Katolik bersama umat Islam lebur dalam tarian dan nyanyian. Hal ini melukiskan dengan sangat jelas bahwa peristiwa itu adalah milik bersama dan seorang Imam Katolik adalah milik bersama.

Demikian juga ketika ada saudara-saudari yang melaksanakan ibadah Haji atau Hajja di tanah suci Mekah, ketika kembali dijemput dan diarak oleh semua masyarakat sebagai ungkapan syukur dan rasa bangga bahwa seorang Haji telah lahir dari masyarakat tersebut. Hal ini semakin menegaskan bahwa seorang Haji atau Hajja bukan hanya milik umat Islam tetapi adalah milik masyarakat.

Kehadiran semua masyarakat dalam Natal atau Idul Fitri, di mana sebelum Misa Perayaan Natal berakhir, seluruh umat Islam sudah berjejer di depan pintu gereja untuk memberikan ucapan selamat Natal dan demikian juga antrian umat Katolik, Protestan dan lainnya di depan mesjid untuk memberikan ucapan selamat Idul Fitri setelah sholat id semakin menegaskan bahwa perayaan yang sedang dirayakan itu adalah perayaan bersama semua warga tanpa pernah memperdebatkan masalah agama.

Toleransi di NTT adalah toleransi yang berakar dari kearifan lokal yang diwariskan dan dilestarikan untuk kedamaian Indonesia. Orang NTT tidak membeda-bedakan suku dan agama karena orang NTT punya prinsip; siapakah dia, engkau, apapun agama dan sukumu, kita adalah satu ibu, satu bapak; kakak dan adik; saudara dan saudari. Ini adalah prinsip dan nafas persatuan orang NTT.

Kita semua mencita-citakan Indonesia damai dalam semangat toleransi, solidaritas dan gotong royong. Indonesia hanya bisa damai ketika kita masing-masing, di daerah kita sendiri menghidupkan dan melaksanakan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang adalah warisan leluhur dan para pendiri bangsa sebagai terjemahan konkrit Pancasila dalam kehidupan bersama.

Indonesia damai ketika toleransi bernafaskan nilai-nilai kearifan lokal. Seperti gerakan membangun Indonesia dari desa sebagaimana yang digiatkan oleh Presiden Jokowi, maka mari kita ciptakan Indonesia damai dari NTT sebagai sekolah toleransi untuk Indonesia damai yang menjadikan kearifan lokal sebagai nafas dan landasan toleransi, solidaritas dan gotong royong yang merupakan terjemahan konkrit nilai-nilai Pancasila.***

Penulis adalah anggota Jaringan Gusdurian Kaltim

 

 

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment