Kerajaan Prai Yawang, Negeri Para Dewa di Pulau Sumba

kampung adat Rindi, bekas Kerajaan Prai Yawang. BNN/Amar Ola Keda

Kupang/BaliNewsNetwork-Kabupaten Sumba Timur dengan ibu kota Waingapu memiliki banyak budaya unik yang khbini menjadi destinasi wisatawan asing. Bukan hanya ribuan kuda atau kekhasan tenun ikatnya, tetapi Sumba juga dijuluki sebagai ‘negeri para Dewa’.

Di Sumba Timur, ada sebuah kampung adat yang terletak di Desa Rindi, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur. Letaknya tidak jauh dari ibukota Waingapu. Hanya membutuhkan waktu 2-3 jam jika anda menggunakan jasa travel agen.

Kampung adat ini konon merupakan sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Rindi dengan ibu kota Negeri Prai Yawang yang dikukuhkan dengan korte verklaring pada tanggal 25 Februari 1918. Kerajaan Rindi memiliki seorang raja pertama, Mangili Umbu Hina Marumata.

Raja Mangili Umbu Hina Marumata, pernah menerima sebatang tongkat berkepala emas dari pemerintah Belanda. Setelah wafat pada tahun 1919, dia digantikan puteranya, Umbu Nggala Lili Kani Paraing alias Umbu Rara Lunggi.

Tahun 1925, Umbu Rara Lunggi digantikan puteranya, Umbu Hapu Hambandima hingga 1960. Tetapi pada tahun 1962, terjadi perubahan sistem pemerintahan. Swapraja dirubah menjadi Kecamatan dan kampung-kampung dijadikan desa. Karena itu, Umbu Tunggu Bili ditunjuk sebagai kepala kecamatan hingga tahun 1969.

“Tongkat berkepala emas Rindi-Prai Yawang sekarang berada di tangan Umbu Kanabu Ndaungu sebagai pewaris tahjta kerajaan terakhir,” tutur Tamu Rambu Ana Intan, penjaga situs Uma Bokul (rumah besar), Sabtu (24/6/2017).

Di kampung adat Prai Yawang, terdapat delapan rumah induk yang mengelilingi kampung adat dan kuburan-kuburan batu yang berukuran besar dengan beratnya mencapai 1-5 ton. Di atas batu kuburan, terdapat menara batu dan arca yang dalam bahasa setempat disebut Penji. Bahkan, ada kuburan yang bagian depannya dibuat patung kepala kerbau dengan tanduk cukup panjang. Kuburan dengan patung kepala kerbau itu merupakan kuburan bangsawan pertama di kampung tersebut.

Delapan rumah induk itu melambangkan delapan keturunan dari para bangsawan dalam kampung adat Prai Yawang Rindi.

“Rumah-rumah induk itu dengan fungsinya masing-masing. Ada yang namanya rumah besar (rumah adat Haparuna/Uma Bokul) yang dijadikan tempat penyimpanan mayat atau digunakan saat ritual khusus seperti ritual adat kematian raja-raja,” kata Tamu Rambu.

Tempat Menggantung Kepala Manusia

Dari delapan rumah induk itu, seluruh keturunan bangsawan Rindi keluar dan kemudian mendirikan rumah sendiri-sendiri. Uma Penji merupakan rumah yang ada menaranya. Rumah ini merupakan tempat tinggal Raja Rindi (Maramba Rindi), Umbu Hapu Hamba Ndima dan keturunannya. Uma Kudu, yang berarti rumah kecil. Uma Andung, tempat berkumpul sebelum pergi atau setelah pulang perang atau setelah pulang pacuan kuda.

20170622_135840Zaman dahulu, Uma Andung dipakai sebagai tempat menggantung kepala musuh yang dibunuh dalam peperangan dan juga sebagai tempat merayakan berbagai acara adat setelah memenangkan peperangan. Ada juga Uma Wara, rumah tempat pesta setelah melakukan peperangan. Kemudian ada Uma Jangga, rumah tempat musyawarah keluarga.

Ada juga Uma Ndewa, rumah para dewa yang merupakan rumah tempat upacara atau sembahyang para penganut kepercayaan Marapu. Rumah ini juga digunakan khusus ritual adat acara cukur rambut anak raja yang baru lahir.

“Di rumah ini, penerangannya hanya boleh menggunakan lampu minyak gemuk hewan (kerbau),” imbuh Tamu Rambu.

Sesuai budaya masyarakat Sumba yang selalu mengedepankan kebersamaan, ketika meninggal dunia, jenazah para bangsawan Prai Yawang-Rindi dikuburkan dalam satu kuburan yang sama atau satu liang lahat.

“Dalam satu kubur bisa sampai 3 orang mayat,” pungkas Tamu Rambu. (Amar Ola Keda)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment