Pegiat Lingkungan Berbaur dengan Nelayan,  Dinas Perikanan – Lingkungan Hidup  Flotim Terperangah

Fritz Niron  (27) aktivitas penanaman mangrove dan  Ipi Keban (69) memperlihatkan telur penyu kepada tim Dinas Perikanan, WCS dan Misool Baseftin, Rabu (7/6)

Solor/BaliNewsNetwork.com-Terperangah! Begitulah kenyataan kekagetan yang diperlihatkan tim Dinas Perikanan dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Flores Timur  ketika menghadiri kegiatan penanaman mangrove (bakau) di pantai  Laku Rua, Kelurahan Ritaebang, Kecamatan Solor Barat, Rabu (7/6).

Para elit itu kage lantaran di kampung Ritaebang tersebut mereka berjumpa dengan para pegiat dan pemerhati lingkungan hidup terutama yang berurusan dengan pantai dan laut.

Kepala Bidang Pengawasan Sumber Daya Perikanan dan Perizinan Usaha Dinas Perikanan Apolinardus Y.P. Demoor dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Petrus Pedo Maran ketika  memaparkan materi sosialisasi tentang konservasi sumber daya hayati di wilayah pantai dan laut mengaku sangat langka bertemu dengan warga yang tekun mengurus hal-hal yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan hidup itu.

“Wah, luar biasa. Hari ini, di sini kami sungguh senang karena kami bisa bertemu langsung dengan pegiat-pegiat lingkungan hidup. Ini langka kita temukan di Flotim. Terima kasih ade Frits Niron, yang telah  mengembangkan mangrove dan menanamnya sendiri, bahkan menyumbangkan kepada pihak lain untuk ditanam di pantai kelurahan ini. Demikian pula kepada para nelayan yang dengan sadar telah melepaskan jenis ikan yang dilindungi seperti penyu, hiu paus dan ikan duyung. Terima kasih kepada bapak Ipi Keban yang telah menghabiskan waktunya untuk menjaga telur penyu hingga menetas. Luar biasa kepedulian warga di sini,” ucap Kadis Petrus Maran dan Dus Demoor memuji kepedulian warga Ritaebang itu.

Fritz Niron dan tanaman bakaunya

Fritz Niron dan tanaman bakaunya

Pengembangan mangrove telah dirintis Fritz Niron sejak tahun 2016. Kepekaannya terhadap kondisi abrasi yang semakin tinggi, Fritz lalu menghabiskan waktu kesehariannya dengan mencari buah mangrove yang tumbuh di pantainya itu dan menyemaikannya. Dari hasil usahannya, Fritz bahkan terjun langsung menanamnya sendiri di pantai. Dia bahkan menyumbangkan 1.000 anakan mangrove kepada Pemerintah Kecamatan dan Kelurahan yang ditanam bersama OMK Stasi Ritaebang dalam Aksi Tahun Ekologi dan menyumbangkan 300  anakan kepada para nelayan untuk ditanam bersama Dinas Perikanan, Lingkungan Hidup, Tim WCS dan Misool Baseftin, Rabu (7/6).

Selain para nelayan seperti Kristo Werang, Ici Keban dan Ber Keban yang telah dengan sadar membebaskan penyu, hiu paus dan ikan duyung yang terjaring pukat mereka, ternyata di Ritaebang  ada pula pemerhati  biota laut penyu. Ipi Keban, seorang pensiunan Pamong Praja senantiasa melindungi areal tempat penyu melepaskan telurnya agar tidak diambil warga.

“Saya selalu mengelabui lokasi penyu bertelur, biar warga tidak mengetahuinya. Dan di saat hitungan telur-telur tadi menetas, saya pasti akan datang dan menjaganya hingga semua  kura-kura  masuk laut dan hilang dari pandangan mata saya,” kata Ipi Keban ketika diwawancarai tim Riffchek Misool Baseftin, WCS dan Dinas Perikanan  di areal pengamanan telur penyu

Baik Fritz dan Ipi Keban sangat mengharapkan agar kepedulian yang telah mereka perlihatkan itu mendapat dukungan dari segenap pihak agar kelestarian lingkungan hidup di perairan Ritaebang senantiasa terjaga. (Emnir)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment