Orang Tua Diminta menjadi Pelopor Pendidikan Karakter Anak

Dialog pembangunan dan pemerataan pendidikan di wilayah Tana Ai bersama Stef Sumandi, anggoa Komis III DPRD Sikka, di kantor Camat Waigete, Jumat (12.05). BNN/Yunus Atabara

Maumere/BaliNewsNetwork-Dalam membangun dan memajukan pendidikan di wilayah Kabupaten Sikka, tidak cukup melalui pendidikan formal di sekolah. Sebab pendidikan formal hanya berlangsung selama 8 jam dibawah pengasuhan guru di sekolah, selanjutnya 16 jam anak itu dibawah asuhan orang tua di rumahnya masing-masing. Karenanya para orang tua harus mampu menjadi pelopor dalam pembangunan pendidikan karakter dan budi pekerti guna membentuk tumbuh kembang anak dalam mengikuti pendidikan.

Hal itu dikatakan anggota Komisi III DPRD Sikka, Stef Sumandi, dalam acara dialog pembangunan dan pemerataan pendidikan di wilayah Tana Ai yang berlangsung di Kantor Camat Waigete, Jumat (12/5/2017) siang.

“Di sekolah itu hanya 8 jam, sedangkan anak bersama orang tuanya 16 jam, maka orang tua harus bertanggungjawab dalam pendidikan karakter dan budi pekerti. Ini sangat penting dalam tumbuh kembang anak sebagai generasi penerus bangsa dan mereka itu adalah calon pemimpin masa depan,” kata Stef Sumandi.

‎Terkait perhatian pemerintah mulai dari pemerintah pusat yang mengalokasikan 20 persen dari APBN untuk sektor pendidikan, maka melalui APBD II Sikka mengalokasikan lebih dari 20 persen. Hal itu sebagai komitmen pemerintah dan DPRD Sikka dalam memajukan pendidikan di wilayah Kabupaten sikka.

“Melalui pendidikan yang merata dapat mencerdaskan kehidupan masyarakatm” tegas Stef Sumandi.

Selain dalam ‎meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan di Sikka juga terus memperjuangkan nasib para guru honor yang jumlahnya saat ini mencapai lebih dari 2.0000an orang yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Sikka, mulai dari tingkat PAUD dan Play Grup, TK, SD, SMP dan SMA.

Pemerintah bersama DPRD akan terus mengatasi masalah itu melalui pengangguran uang insentif sebesar Rp 500 ribu per bulan.

Selain itu, pendidikan para tenaga pengajar sesuai dengan tuntutan ASN saat ini bahwa seorang guru harus berpendidikan strata-1, dengan demikian diharapkan dapat mengikuti tugas belajar untuk mendapatkan gelar sarjana.

“Dengan demikian anak didik akan mendapatkan pendidikan yang maksimal sesuai dengan latar pendidikan dari masing-masing tenaga pendidiknya,” ucap Stef Sumandi. (Yunus Atabara)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment