Melestarikan Nilai Kesucian dalam Ritus Lepa Bura di Sulengwaseng, Solor Selatan

Ritual Bu’a Bura: Upacara adat pemberian makan dari opu lake (paman, keluarga ibu) kepada keponakan (anak gadis) mereka di rumah adat suku Krowin, Desa Sulengwaseng, Solor Selatan, Flores Timur. BNN/Emnir

Solor/BaliNewsNetwork.com-Ritus adat Lepa Bura atau  syukuran panen    bagi warga desa Sulengwaseng di Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur  bukan sekedar pengulangan pelaksanaan seremonial belaka melainkan menanamkan nilai-nilai pendidikan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Sesepuh Adat  Sulengwaseng Benediktus Tada Krowin ketika dikonfirmasi di sela-sela pelaksanaan  Bu’a Bura (memberi makan anak gadis)  di rumah adat suku Krowin, Senin (24/4) menjelaskan,  ritus Lepa Bura berawal dari aktivitas  pi’in  (pantang)  yang dilakukan oleh tiga golongan masyarakat, yakni golongan para ibu, golongan bapak dan anak gadis yang dilaksanakan semenjak hujan perdana menyirami wilayah mereka.

“Ada tiga komponen yang menjalankan pi’in atau pantang itu. Dari golongan  istri atau ibu-ibu, anak gadis dan bapak-bapak (kelake).Tidak saja pantang terhadap makanan baru, terkhusus anak gadis aktivitas pantang tersebut mencakup juga pantang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan dengan urusan privat seperti pacaran  dan dunia seksualitas. Jadi, Lepa Bura berisikan dengan kesucian diri, ketaatan pada norma-norma baik norma adat maupun norma sosial. Bila terjadi pelanggaran atau menjalankan pantang tidak sungguh-sungguh, maka publik akan mengetahui secara nyata dalam puncak acara Lepa Bura itu dalam ritual  Bu’a Kebarek,” urai Benediktus Tada Krowin.

Benediktus Tada Krowin,Kepala suku Krowin. BNN/Emnir

Benediktus Tada Krowin, Kepala suku Krowin. BNN/Emnir

Mengapa ritus  Lepa Bura tak bisa dipisahkan dengan dunia anak perempuan (gadis)? Benediktus Tada Krowin dalam penjelasannya membeberkan, selain warisan leluhur yang diperoleh dari Bapa Kelake Leran Wulan, Ema Kewae Tana Ekan, keikutsertaan anak perempuan dalam seremoni Lepa Bura tersebut  menyimbolkan penghormatan terhadap  dewi kehidupan yang telah memberikan mereka makanan.

“Ini petuah leluhur kami yang senantiasa kami lakukan setiap tahun. Ada  beberapa tahapan  sejak pi’in hingga acara  penutupan yang dilakukan oleh saya  (makan wu’un: makan makanan baru). Nanti ada Bu’a Bura, Rewan Wata, Rekan Mati dan Rewan Ua  yang akan dibagikan kepada para gadis dan ibu sebagai lambang syukur dan berkat ,” ujar Bene Tada-panggilan akrab Benediktus Tada Krowin.

Sebagaimana yang disaksikan BaliNewsNetwork.com, pada pelaksanaan Bu’a Bura, setiap anak gadis di wilayah Lewahe, Desa Sulengwaseng, mengenaka sarung adat dan kebaya lalu duduk  menghadap rengki yang disiapkan oleh jajaran Blake atau Opu Lake mereka. Jamuan dari Blake (om atau paman, keluarga dari ibu)  itu melambangkan unsur kepemilikan. Talian darah turunan serta keikutsertaan para paman dan tanta  dalam mendidik, menjaga dan mengikuti perkembangan anak gadis  serta membimbing dalam petuah. Itulah yang menjadi nilai pemaknaan ritus tersebut.

Rangkaian ritus adat  menuju puncak Lepa Bura  lalu diikuti dengan acara Kebarek Welu Wata KadurAgo Kebarek,  dan perarakan mereka  menuju lokasi Lepa Bura dari rumah adat suku Krowin, Melur Koten dan berakhir pada rumah adat suku Huler. (Emnir)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment