BNP2TKI Siapkan Upgradding Skills bagi CTKI

Foto: bnn/sid.

Kuta/BaliNewsNetwork-Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mentargetkan perluasan penempatan TKI formal (terampil) ke berbagai negara tujuan penempatan.

Kegiatan ini seiring dengan upaya menurunkan TKI informal yang menjadi target dari zero TKI informal pada tahun 2019 mendatang.

Terkait dengan prioritas penempatan TKI formal itu, salah satu cara yang ditempuh adalah memperkuat cakupan pasar kerja luar negeri melalui kerjasama berbagai skema penempatan TKI serta peningkatan fungsi Labour Market Inteligence di Perwakilan Republik Indonesia.

Prioritas penempatan TKI formal terampil ini merupakan arah kebijakan Pemerintah yang tertuang di dalam Rencana Program Jangka Menengah (RPJM) BNP2TKI tahun 2015 – 2019 khususnya dalam perluasan kesempatan kerja luar negeri di bidang penempatan dan perlindungan TKI ke luar negeri adalah, peningkatan TKI formal (terampil), profesional, dan mandiri.

Deputi Kerjasama Luar Negeri dan Promosi BNP2TKI Elia Rosalina Sunityo mengatakan, yang menjadi masalah didalam peningkatan TKI formal terampil ini adalah, masih adanya gap antara permintaan (demand) dan potensi (supply) dalam hal kompetensi dan bahasa.

“Oleh karena itu, kegiatan penting yang sedang dilakukan BNP2TKI adalah upgrading skill itu sekitar 5 ribu yang dibutuhkan itu khusus untuk calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI), 4 ribunya hospitality. Tujuan upgradding skill untuk meningkatkan kompetensi calon TKI di berbagai jabatan unggulan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasar kerja luar negeri,” katanya di sela-sela Employment Business Meeting (EBM) di Kuta, Kamis (27/4/2017).

Dijelaskan, kebijakan dilakukannya upgrading skill tersebut sekaligus merupakan exit strategy atas dampak dari Keputusan Pemerintah melalui Kepmenaker RI Nomor 260 tahun 2015 tentang “Penghentian dan Pelarangan Penempatan TKI Pada Pengguna Perseorangan Di Negara-negara Kawasan Timur Tengah.”

“Dalam konteks ini (upgradding skill-red) upaya Pemerintah untuk mempromosikan TKI yang terlatih (skilled) terus dilakukan agar potensi (supply) bisa terserap di pasar kerja di negara-negara tujuan penempatan TKI menjadi penting dan terus mendapat dukungan semua pihak,” jelas Elin.

Bekerja di luar negeri diharapkan tidak saja menjadi sumber penghasilan TKI dan sumber devisa negara. Tetapi juga memiliki nilai tambah, yaitu adanya peningkatan keahlian/keterampilan (transfer of knowledge) dan pada akhirnya bisa dimanfaatkan untuk pembangunan Indonesia di masa yang akan datang.

“Di dalam mencapai program-programnya, BNP2TKI tidak bisa terlepas dari peran dan dukungan institusi lain, perlunya membangun kerjasama yang solid dan terintegrasi dengan berbagai pemangku kepentingan seperti lembaga pemerintah, asosiasi pendidikan dan profesional, lembaga pendidikan, pusat pelatihan, agen tenaga kerja lokal dan asing,” kata Elin menambahkan.

Saat ini BNP2TKI  melalui Deputi KLN-P terus mempromosikan penempatan TKI untuk sektor formal melalui berbagai program promosi dan kegiatan seperti kunjungan ke sumber-sumber lapangan kerja, road show, pameran/expo, serta Employment Business Meeting (EBM).

“Saya menyambut baik kegiatan EBM di Denpasar, Bali, ini, dikarenakan merupakan suatu sarana untuk mempertemukan para pemangku kepentingan dari luar negeri dan dalam negeri bersama-sama. Pemangku kepentingan luar negeri termasuk di antaranya Perwakilan RI yang bertindak sebagai Labour Market Inteligent, employer, dan agen tenaga kerja yang kredibel. Sedangkan para pemangku kepentingan dalam negeri di antaranya institusi pendidikan/pelatihan, asosiasi profesi termasuk perusahaan Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS),” terang Elin.

“Kami sangat berharap, bahwa EBM ini akan menjadi ajang terbaik untuk mencari TKI terbaik dari beberapa sektor seperti hospitality, kesehatan, manufaktur, konstruksi, dan bidang jasa lainya,” katanya.

Sekertaris BNP2TKI Hermono menambahkan, saat ini ada sekitar 92 persen tenaga kerja Indonesia yang dikirim tidak melalui prosedur.

“Tantangan kita adalah suply bagaimana Indonesia bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja kita. Tenaga kerja kita yang paling banyak dicari itu sekarang sektor kontruksi dari negara Timur Tengah. Mereka banyak minta tenaga kontruksi dan restoran sebagai pelayan,” ujarnya.

Sekedar informasi, saat ini jumlah tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri tahun 2015 berjumlah 275.736, menurun di tahun 2016 sekitar 234.451. Sementara negara yang menyerap tenaga kerja Indonesia paling banyak adalah Malaysia sekitar 87 ribu, disusul Taiwan dan Arab Saudi. (sid)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment