BKIPM Uji Kandungan Formalin Ikan di Pasar Kedonganan, Hasilnya Negatif

Uji kandungan formalin. Foto: bnn/sid.

Badung/BaliNewsNetwork-Serangkaian Bulan Bakti Karantina dan Mutu Keamanan Hasil Perikanan 2017 yang dilakukan mulai 20 April hingga 19 Mei mendatang, BKPIM Kelas I Denpasar menginisiasi pengujian formalin di Pasar Kedonganan, Kuta, Badung, melalui Gemasatukata yaitu gerakan sadar mutu dan karantina sebagai salah satu aksi kegiatan bakti.

“Dasar hukumnya sendiri UU No.16 tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan, UU No.31 Tahun 2004 sebagaimana yang telah diubah dengan UU no.45 tahun 2009 tentang perikanan, UU no.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, UU no.18 tahun 2012 tentang pangan serta instruksi Presiden RI nomor 1 tahun 2017 tentang gerakan masyarakat hidup sehat,” ujar Kepala BKIPM Kelas I Denpasar Habrin Yake, di lokasi, Rabu (26/4/2017).

Pasar Ikan Kedonganan menjadi target aksi bulan bakti dikarenakan merupakan pasar adat dan pasar ikan terbesar yang ada di Provinsi Bali. Selain itu hampir semua ikan bersumber di tempat tersebut. Aksi tersebut juga dilakukan dibeberapa swalayan-swalayan lainnya.

Pengujian kandungan formalin ini untuk menjaga mutu dan keamanan pangan hewani dari bahaya bahan-bahan kimia dan kandungan logam berat (kandungan Merkuri, Pb, Cd). Aksi ini selain diinisiasi BKIPM Denpasar, turut aksi BPOM Denpasar, Dinas Perikanan Kabupaten Badung dan LPPMHP Bali.

“Formalin berdampak pada kesehatan tubuh manusia jika terkonsumsi, sekecil apapun itu  bisa memicu terjadinya kanker. Oleh karena itu keberadaan formalin dalam produk-produk makanan yang dikonsumsi terutama dalam hal ini perikanan harus tetap diawasi. Karena produk-produk hasil laut iniah yang tingkat kerawanannya tinggi,” ujarnya.

Pihaknya, mengambil 20 sampel hasil sampling dari berbagai jenis ikan yaitu udang, cumi-cumi, tongkol, baruna, ikan layang, ikan kembung, ikan teri, udang paname, ikan kerapu, kerang dan lain sebagainya namun hasilnya negatif formalin.

“Ini mencirikan bahwa sampel yang kami ambil tadi dari ikan yang tidak bagus kapasitasnya namun dengan hasil yang negatif tersebut tentunya produk ini masih layak dikonsumsi. Jadi kepada masyarakat silahkan mengkonsumsi ikan karena ikan-ikan di pasar kedonganan masih aman, tidak terkontaminasi formalin,” terangnya.

Ditambahkan Wayan Eka Ratnata Kepala Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan Balai BPOM Denpasar, mengungkapkan pihaknya setahun yang lalu pernah menemukan kandungan formalin di arena PKB yaitu jenis makanan sate ikan.

Dalam kandungan besar, katanya, dampak jika manusia mengkonsumsi ikan berformalin katanya bisa mengiritasi saluran pencernaan. Selain iritasi katanya bisa memicu kanker, efeknya bisa muncul dalam kurun waktu 5 tahun.

Pihaknya memberikan informasi bahwa ciri-ciri untuk membuktikan bahwa ikan mengandung formalin adalah biasanya ikannya kaku, bau cukup menyengat.

Dia menyarankan apalabila ingin menyimpan ikan dalam kurun waktu yang cukup lama, bisa disimpan ditempat beku yang masih bagus dengan suhu tertentu.

“Kalau komponen gizi tidak berubah, bahan formalin yang terakumulasi di darah itu yang menyebabkan berbahaya,” tandasnya. (sid)

Editor: Ni Ketut Budiantari

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment