Penghuni Translok Odang Terintimidasi, 60 Rumah Mubasir

Inilah kondisi rumah Translok Odang yang ditinggalkan penghuninya.bnn/yunusatabara

Maumere/BaliNewsNetwork-Warga perumahan Transmigrasi Lokal (Translok) Odang, di Dusun Ojang, Desa Ojang, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka yang dibangun oleh Dinas Nakertrans Provinsi NTT tahun 2008, sering diintimidasi oleh oknum yang mengaku sebagai pemilik kawasan Translok Odang.

Karena sering diintimidasi sehingga membuat warga Translok merasa tidak nyaman dan memilih meninggalkan rumah mereka, kembali ke kampong halamanannya.

Akibatnya sebanyak 60 rumah Translok dari 101 rumah di Translok Odang baik di SP 1 maupun di SP 2 tampak mubasir karena tidak terawat lagi. ‎

TRANSLOK ODANG-MAUMERE-SIKKA-4

Kondisi rumah Translok Odang

Di SP 1 dari 50 Translok, 38 rumah masih ada penghuninya, sedangkan 12 rumah lainnya mubasir. Sedangkan di SP 2 terdapat 51 rumah terdapat 3 rumah yang berpenghuni sedangkan 48 unit lainnya mubasir karena ditinggalkan pemiliknya.

Warga yang masih bertahan di lokasi menuturkan, puluhan rumah Translok yang mubazir tersebut akibat sering diintimidasi oleh seorang warga Ojang yang mengaku sebagai pemilik tanah kawasan Translok.

Oknum tersebut  melarang warga untuk tidak menggarap lahan garapan yang sudah dibagikan pemerintah. Hal itu membuat warga Translok memilih kembali ke kampung halaman masing-masing agar bisa kerja kebun sebagai sumber hidup mereka.

“Kami bertahan hidup di sini, karena kami tahu rumah ini pemerintah yang kasih. Kami bertahan hidup di lahan pekarangan, semua lahan garapan sudah diambil kembali oleh orang yang mengaku sebagai tuan tanah ini. Jangan kan tanah, sapi yang dibagi pemerintah saja banyak yang dia ambil,” kata ‎Benediktus Bayo Boho, ketua RT 11 RW 03, SP 1 Translok Odang

Dua warga yang masih bertahan di Translok Odang

Dua warga yang masih bertahan di Translok Odang

Menurut Benediktus, sepengetahuan warga Translok Odang bahwa lokasi Translok tersebut sudah dibebaskan oleh pemerintah, akan tetapi masih terjadi klaim sebagai hak milik oleh orang tertentu yang membuat penghuni Translok merasa tidak nyaman.

Benediktus menambahkan, pada umumnya penghuni Translok Odang adalah sebagian besar warga Ojang dan hanya sedikit yang berasal dari luar desa Ojang

“Katanya Tranlok umum makanya saya ambil rumah satu di sini karena saya dulu sopir waktu kerja proyek Translok. Tapi hampir semua orang Ojang, sehingga setelah jaminan dari pemerintah sudah tidak ada mereka pulang ke rumah mereka masing-masing,” kata Boho yang mengaku berasal dari Adonara, Flores Timur.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah tegas untuk menertibkan para pemilik rumah di Translok Odang agar bangunan tidak sia-sia. Selain itu pemerintah segera melakukan sertifikasi tanah dan rumah warga Translok agar warga Translok tidak dihantui perasaan was-was atas intimidasi yang sering dilakukan oleh oknum yang mengklaim sebagai pemilik tanah kawasan Translok Odang

TRANSLOK ODANG-MAUMERE-SIKKA-3

Kondisi rumah Translok Odang

Terpisah, Ketua DPRD Sikka Rafael Raga, SP, kepada BNN mengatakan, Partai Golkar melalui pemandangan umum fraksi belum lama ini sudah mengangkat masalah Translok Odang di Desa Ojang yang meminta agar pemerintah segera mengambil langkah tegas kepada warga pemilik rumah di kawasan Translok yang saat ini mubasir.

Selain itu, menurut Rafael Raga,  pemerintah  segera melakukan sertifikasi tanah di kawasan Translok agar tidak menjadi masalah di kemudian hari

“Kita sudah angkat dalam pemandanhan umum fraksi, agar pemerintah tegas kepada pemilik rumah yang tidak mau tinggal di Translok. Selain itu pemerintah segera sertifikasi tanah itu agar tidak masalah lagi, negara dirugikan kalau rumah itu dibiarkan mubasir,” tegas Rafael Raga. (yunusatabara)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment