Napi Kabur di Rutan Sikka, Petugas Wajib Diberi Sanksi

Meridian Dewanta Dado. bnn/dok

Kupang/BaliNewsNetwork-Belum lama ini publik dikejutkan dengan kaburnya narapidana dan aksi bunuh diri seorang napi di Rumah Tahanan (Rutan) Klas II B Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Hal ini memicu reaksi keras dari Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Wilayah Nusa Tenggara Timur.

“Dengan adanya tahanan atau napi rutan yang bunuh diri atau kabur dari tahanan maka pihak rutan Maumere harus tegas mengakui bahwa mereka tidak sigap dan cekatan dalam melakukan pengawasan terhadap warga binaannya tersebut,” ujar Koordinator TPDI Wilayah NTT, Meridian Dewanta Dado, SH, Sabtu (1/4/2017), melalui rilisnya yang diterima BNN.

Menurut Dado, kaburnya napi dan bunuh diri menandakan fungsi rutan sebagai sarana untuk membina dan memicu warga binaan rutan untuk menjadi orang yang sadar hukum justru tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Sia-sia negeri ini membayar gaji dan tunjangan bagi para pegawai rutan. Pegawai-pegawai yang diberi tugas menjalankan pembinaan dan pengawasan terhadap para napi atau tahanan justru berujung pada kejadian tahanan bunuh diri dan kabur dari rutan,” kata Dado.

Dia menambahkan, perlu ada sanksi bagi pegawai rutan yang tidak maksimal menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaannya yang mengakibatkan napi kabur atau bunuh diri.

Diberitakan sebelumnya, seorang narapidana (Napi) di Rumah Tahanan Klas II B Sikka, Nusa Tenggara Timur, Hendy Hermanto Putra bin Harjotukijo kabur usai mengikuti ibadah di gereja, Minggu (20/3/2017).

Hermanto merupakan warga RT 02 RW 01 Kecamatan Alok Timur, Maumere, Sikka. Dia berstatus tahanan A III dalam perkara penipuan.

Kaburnya Hermanto diketahui pihak Rutan setelah komandan dan kepala Rutan melakukan apel pengecekan.

Setelah kaburnya Hermanto, Nikolaus Ware (57) ditemukan tewas gantung diri, Rabu (29/3/2017) pukul 7.30 wita.

Dia ditemukan seorang petugas Lapas tergantung di atas pohon mangga menggunakan sarung.

Nikolaus merupakan napi kasus pencabulan yang divonis lima tahun oleh hakim Pengadilan Negeri Sikka. (Amar Ola Keda)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment