Sidang Penganiayaan Ibu Kandung Jaksa-Terdakwa Sempat Diperingatkan Istrinya

Terdakwa Putu Eka Putra. Bnn/ist

Gianyar/BaliNewsNetwork-Putu Eka Putra (34) yang menjadi terdakwa kasus penganiayaan, Rabu (8/3) kembali didudukan di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Gianyar. Dalam siding, majelis hakim yag dipimpin  Ayu Sri Ardiyanti, Jaksa Penuntut Umum (JPU) AA Alit Rai Suastika menghadirkan tiga orang saksi.

Salah satunya  adalah saksi korban, Ni Ketut Galung yang tidak lain adalah ibu kandung I Ketut Sujaya, jaksa pada Kejaksaan Tinggi Bali. Sementara dua orang saksi lainya adalah cucu korban, yaitu I Wayan Gede Berlin dan I Made Dipa Umbara.

Di muka sidang, saksi korban yang juga nenek terdakwa mengatakan sama sekali tidak menduga bila terdakwa tega berlaku keji padanya. Pasalnya, antara korban dan terdakwa yang masih tinggal satu atap dan selama ini tidak pernah ada permasalahan.

Korban mengatakan, sekitar pukul 11.30 Wita malam, terdakwa datang dan langsung mengamuk serta memukul kaca jendela rumah korban yang beralamat di beralamat Banjar Selat, Desa Buahan Kaja, Panyangan, Gianyar, hingga pecah. Tidak hanya satu kaca, melainkan semua kaca jendela yang ada di rumah korban tidak luput dari amukan terdakwa.

“Tiba-tiba dia (terdakwa) datang, menjambak rambut saya dan menyeret saya,” terang korban.

Korban mengatakan, saat terdakwa datang dan mengamuk, dia sedang tidur-tiduran di kamarnya.

“Apa yang terdakwa lakukan setalah menjabak rambut ibu (korban)?,” tanya salah satu hakim anggota. Korban menjawab, setelah mejambak, korban ditarik dan diputar-putar oleh terdakwa.

“Kalau saja cucu saya (kedua saksi lainya) tidak datang, mungkin saya bisa mati,” terang saksi.

Putu Eka Putra

Putu Eka Putra

Dikatakan pula oleh korban, saat kejadian penganiayaan itu, istri terdakwa, Anak Agung Santika Dewi sempat mengingatkan terdakwa dengan berkata, “Untuk apa dadong (nenek) kamu perlakukan seperti itu. Kamu (terdakwa) selalu bikin masalah saja”. Namun ucapan istri terdakwa tidak membuat terdakwa berhenti menganiaya korban.

Beruntung, dua cucu korban, I Wayan Gede Berlin dan I Made Dipa Umbara yang mendengar kabar bahwa terdakwa sedang mengamuk di rumah korban, datang dan langsung berusaha melapas tangan terdakwa yang menjabak rambut korban. Kedua cucu korban yang juga menjadi saksi dalam sidang mengatakan tidak tahu kenapa terdakwa mengamuk dan menganiaya korban.

“Saya tidak tahu masalahnya apa, hanya saja setahu saya terdakwa ini memang sering buat ulah, dulu juga pernah mencekik leher kakek (suami korban),” jelas Dipa Umbara.

Saksi Dipa menuturkan, saat mendengar kabar bahwa terdakwa mengamuk, dia bersama kakaknya, Gede Berlin langsung menuju ke tempat kejadian.

“Sampai di sana saya lihat terdakwa menjabak rambut korban, saya langsung melerai dengan menarik tangan terdakwa,” sebut Dipa Umbara.

Akibat perbuatan terdakwa, korban yang sudah tua renta itu mengalami bebertapa luka seperti, luka di siku kiri, lengan atas kanan, dada sebalah kiri, perut sebelah, hingga tiga tulung rusuknya patah. Bahkan di muka sidang, korban mengaku sampai saat ini masih mengalami sakit sehingga tidak bisa beraktifitas seperti belum kejadian.

Sementara terdakwa yang hanya duduk sambil menundukan kepalanya membenarkan semua keterangan saksi-saksi. (pro)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment