STIKOM Bali Peduli, Bantu Korban Tanah Longsor dan Banjir Bandang di Kintamani

STIKOM Bali menyerahkan bantuan untuk para korban banjir bandang di Banjar Yeh Mampeh, Desa Tegal Sari, Batur, Kintamani. bnn/rsn

Denpasar/BaliNewsNetwork-STMIK STIKOM Bali menunjukkan kepeduliannya terhadap para korban bencana tanah longsor dan banjir bandang yang menerjang lima desa di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli yakni Songan, Yeh Mampeh, Awan, Sukawana, dan Subayu.

Menyerhakan bantuan untuk korban tanha longsor di banjar Bantas, Songan, Kintamani.

Menyerahkan bantuan untuk korban tanah longsor di Banjar Bantas, Desa Songan, Kintamani.

Rabu (22/02) kemarin, sedikitnya 30 mahasiswa dan dosen STIKOM Bali mengunjungi para korban di dua desa yakni Songan dan Yeh Mampeh sekaligus menyerahkan bantuan keuangan sejumlah Rp 33 juta lebih, serta beras, pakaian, mie instan dan teh kotak.

Bantuan itu diserahkan oleh Dandy Pramana Hostiadi, Kabag Kemahasiswaan pada PK III STIKOM Bali. Di Songan bantuan diterima oleh Gede Mangun sebagai wakil para korban tanah longsor di Banjar Bantas, Desa Songan, sedangkan bantuan kepada para korban bencana banjir banjar di Yeh Mampeh  diterima oleh I Nengah Sukarta selaku Kelian Dinas Yeh Mampeh, Tegal Sari, Batur.

Mengunjungi lokasi yang terendam banjir

Mengunjungi lokasi yang terendam banjir

Ketua STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan mengatakan, dana yang terkumpul untuk bantuan ini berasal dari para dosen, staf manajemen dan mahasiswa STIKOM Bali dan dari masyarakat yang dikumpulkan oleh mahasiswa STIKOM Bali.

“Ini adalah bentuk kepedulian STIKOM Bali dan masyarakat umum lainnya dalam hal menanggapi setiap bencana, sekaligus meningkatkan kesadaran para mahasiswa dan masyarakat untuk peduli terhadap sesama, terutama pada saat ditimpa bencana, seperti saudara saudari kita di Kintamani ini,” kata Dadang Hermawan.

Bercanda dengan anak-anak pengunsi

Bercanda dengan anak-anak pengunsi

Pantauan balinewsnetwork di Songan, para mahasiswa dan dosen terlihat berdialog langsung dengan para korban. Bahkan mereka bercengkrama dengan anak-anak yang terlihat bermai-main di atas tumpukan bantuan yang menumpuk di hampir memenuhi banjar.

Di Yeh Mampeh, seusai memberi bantuan, para dosen dan mahasiswa langsung meninjau rumah warga yang terendam banjir. Meski sudah mengering, bekas rendaman air setingi 2 meter masih membekas di dinding rumah. Sekembali dari lokasi, para dosen dan mahasiswa mendatangi tenda pengungsi dan bercengkrama dengan anak-anak yang sedang bermain di halaman.

Selfie di depan tenda pengungsi

Selfie di depan tenda pengungsi

Menurut Kelian Banjar Yeh mampeh, I Nengah Sukarta, rumah yang terkena banjir sebanyak 54 KK tapi yang tinggal di tenda pengungsian sebanyak 31 KK, sisahnya masih bertahan di rumahnya meski dalam kondisi belum layak huni karena masih kotor.

Bencana tanah longsor  dan banjir bandang yang terjadi pada 10 Februari 2017 itu menewaskan 13 orang. Di Banjar Bantas, Desa Songan, sedikitnya 7 warga tewas, di Desa Awan, 4 orang tewas, di Desa Sukawana dan Desa Subayu masing-masing 1 orang tewas. di Banjar Yeh Mampeh,  meski tidak ada korban jiwa namun 54 rumah terendam banjir bandang setinggi 2 meter. (rsn)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment