Kembali Dipanggl Polisi, Jatam dan LBH Satu Bumi Dampingi Goris  

Nelayan Lamalera. bnn/sandro

Lembata/BaliNewsNetwork-Gregorius Dengekae Krova alias Goris kembali dipanggil polisi terkait kasus penjualan insang ikan pari yang heboh akhir tahun 2016 silam.

Setelah istirahat beberapa bulan untuk menjaga kondisi kemanan di Lembata saat puncak perayaan Harnus 13 Desember 2016, kasus yang menjerat nelayan asal Lamalera, Goris Krova kembali di buka.

Kali ini, Goris dipanggil untuk diperiksa sebagai saksi dalam kasus yang sedang dihadapinya di Polres Lembata pada Kamis, 9 Februari 2017.

Kepada wartawan di Lewoleba, Rabu (08/02/2017) Goris mengungkapkan, dia mendapat surat panggilan dari penyidik Polres Lembata untuk menghadap kembali ke Polres, Kamis, 9 Februari 2017.

Sambil menangis, Krova menceritakan dirinya tidak sanggup lagi menghadapai kasus yang sedang menjeratnya ini. Sebab, Goris berkeyakinan apa yang dia lakukan bukan sebagai tindakan kriminal melainkan pekerjaannya sebagai nelayan.

Bahkan dirinya bersama seluruh nelayan Lamalera bermatapencaharian nelayan yang saban hari menangkap ikan termasuk ikan pari manta yang dilarang tersebut.

Dalam surat panggilan tersebut, Goris Krova diminta menghadap penyidik Brigpoll Yusuf G. Kapitan, agar diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan dengan sengaja mengedarkan ikan yang merugikan masyarakat, sumber daya ikan ke dalam atau ke luar wilayah RI dan mengedarkan ikan yang dilarang dan dilindungi oleh pemerintah.

Berdasarkan surat panggilan polisi bernomor SP.Gil/20/II/2017  tersebut, Goris Krova akan mendatangi Polres Lembata didampingi Melki Nahar dari Jaringan Advokasi Tambang Nasional (JATAN) dan pengacara Ahmad Bumi, Cs dari LBH Satu Bumi.

Sementara itu menurut rilis dari elemen peduli Nelayan Lamalera yang terdiri dari KNTI, Komunitas Nelayan Tradisional Lamalera dan Orang Lamalera Perantauan yang dikirim ke media sebelumnya menjelaskan, Goris terancam dikriminalisasi karena menangkap ikan pari jenis pari manta (manta birostris). Goris juga mendapat penahanan sewenang-wenang tanpa diberikan surat perintah pemanggilan dan penahanan dari Kepolisian Resort Lembata.

Goris merupakan anggota dari komunitas nelayan masyarakat adat Lamalera sebagai komunitas orang asli yang menangkap ikan dengan cara yang telah dipraktekkan secara turun temurun.

Sejak abad ke-16 hingga saat ini, praktek penangkapan ikan secara tradisional dengan teknologi yang sederhana masih dipraktekkan terhadap ikan-ikan besar termasuk ikan pari dan ikan paus.

Praktek tradisional ini terkadang memerlukan waktu hingga berhari-hari untuk menaklukkan ikan besar yang memiliki tenaga besar bahkan melampaui batas perairan teritorial Indonesia.

Setelah mendapatkan ikan, para lamafa (orang yang memimpin dan menangkap dengan tombak) tidak mengambil sendiri hasil tangkapannya, namun memastikan kelompok yang paling prioritas mendapatkan hasil tangkapan, yaitu janda, wanita renta, perempuan dan anak dan termasuk yatim piatu baru bisa memanfaatkan hasil tangkapan.

Kriminalisasi ini dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Kepolisian Resor Lembata dan Wildlife Crime Unit dengan dasar Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 4/KEPMEN-KP/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Pari Manta.

Keputusan tersebut tidak pernah melalui konsultasi publik bahkan sosialisasi kepada masyarakat adat Lamalera, yang otomatis mengkriminalisasi segala penangkapan ikan pari manta jenis manta birostris dan manta alfredi.

Goris terancam dikenakan ketentuan pidana dalam UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya khususnya Pasal 21 ayat (2) huruf b dan d jo Pasal 40 dengan ancaman pidana penjara 5 (lima) tahun dan denda Rp 100.000.000,00.

Namun jika menggunakan Undang-Undang Perikanan, Goris termasuk kategori nelayan kecil, dapat dikenakan Pasal 100C UU No. 45 Tahun 2009 yang melanggar Pasal 7 ayat (2) huruf n UU No. 45 Tahun 2009 mengenai pengaturan atas jenis ikan yang dilindungi dengan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00. (sandrowangak)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment