Herman Wutun: Saya Jadi Bupati Bukan untuk Istri dan Anak Saya

Herman-Vian mengacungkan parang dan tombak tanda siap memenangkan pilkada Lembata 2017 (foto: sandro)

Lembata/BaliNewsNetwork-Kampanye akbar Paket TITEN, Herman Y.L Wutun-Yohanes Vianey K. Burin, di lapangan misi Lewoleba, Senin (30/01)  diwarnai penyerahan tombak dan parang sebagai lambang kekuatan seorang pemimpin untuk melindungi dan mengayomi rakyat.

Penyerahan oleh tokoh masyarakat dilakukan setelah sembilan tokoh masyarakat dari sembilan kecamatan di wilayah Kabupaten Lembata dipanggil satu per satu naik ke atas panggung kampanye.

Acara penyerahan yang berlangsung di jam-jam terakhir kampanye TITEN tersebut disambut teriakan yel-yel khas TITEN dengan mengacungkan jempol, salam khas paket TITEN. Ribuan pendukung TITEN memenuhi lapangan misi yang berada di belakang gedung SDK St. Tarsisius Lewoleba.

Sebagian yang beruntung duduk di kursi, namun sebagian besar berdiri dalam lapangan. Banyak pula yang menonton di sepanjang jalan depan lapangan bola tersebut.

Sementara di atas panggung terlihat sejumlah pengurus partai Gerindra Provinsi NTT dan Kabupaten Lembata serta pengurus PKS. Tokoh masyarakat dari selatan yang juga mantan Penjabat Bupati Petrus Boliona Keraf sempat tampil berorasi dengan banyak pesan buat calon bupati dan calon wakilnya, sambil mengkritisi sejumlah kenyataan yang memprihatinkan di masa pemerintahan sebelumnya.

Sebelum memulai orasi politiknya, Herman Wutun juga memperkenalkan sejumlah pengurus Inkud yang hadir dalam kampanye akbar tersebut sebagai bentuk dukungan terhadapnya.

Bicara KKN, Wutun bahkan mengundang dua anaknya dan dua adiknya naik ke panggung. Wutun menuturkan saat anaknya akan mengikuti tes PNS di Pemprov NTT, dia menawarkan dirinya untuk membantu dengan minta teman-temannya untuk membantu meluluskan anaknya yang seorang dokter tersebut. Namun tawaran itu ditolak anaknya yang balik mengeritik ayahnya.

Wutun juga menegaskan dirinya sudah memberitahu istri dan anak-anak serta keluarga dekatnya bahwa dia menjadi Bupati Lembata, bukan bupati untuk anak atau istrinya dan adik-adiknya.

“Hal ini saya sampaikan sebagai contoh bahwa ketika saya menjadi bupati bukan untuk kepentingan istri dan anak anak saya,” tegas Wutun. (sandrowangak)

Editor: Rahman sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment