Luas Lahan dan Air, Masalah Utama Petani NTT

Ketua DPD Golkar NTT Drs. Ibrahim Agustinus Medah (keempat dari kiri), Ketua Golkar Sumba Tengah Umbu Bintang, Ketua Golkar Sumba Barat Dan Bili, Ketua Golkar Sumba Barat Daya, Gerson Tanggu Dedo dan pengurus Golkar lain di Aula Hotel Monalisa, Waikabubak, Senin (5/11/2016). bnn/ist

Waikabubak/BaliNewsNetwork-Mantan Bupati Kupang dua periode Ibrahim Agustinus Medah atau akrab dipanggil Iban Medah mengatakan, secara statistic, 70 persen penduduk NTT bekerja di sektor pertanian. Oleh karenanya untuk  mensejahterakan masyarakat NTT sector pertanian haruslah menjadi prioritas.

Hal itu dikatakan Iban Medah yang juga Ketua DPD Partai Golkar NTT dalam pidato politiknya ketika membuka Musda Partai Golkar Sumba Tengah di Wisma pemda Sumba Tengah,  Senin (05/12).

Medah Minta Pilih Gubernur Yang Petani – Bintang Pimpin Golkar Sumba Tengah, Bili di Sumba Barat

Menurut Medah, untuk memberantas kemiskinan di NTT, maka aspek utama yang harus diurus adalah sektor pertanian. Pasalnya, rakyat NTT lebih dari 70 persen hidup di sektor pertanian.

“Karena mayoritas rakyat NTT adalah petani dan masih miskin maka sektor pertanian belum berhasil. Apa yang menyebabkan mayoritas masyarakat NTT yang petani ini tidak maju, yang pertama soal air dan kedua soal lahan pertanian yang diolah,” katanya.

Dikatakan Medah, selama ini untuk membiayai infrastruktur air di NTT, kita hanya berharap dari APBN.

“Saya selaku senator sudah sampaikan ke Menteri PU, juga ke Menteri Peranian bahwa NTT membutuhkan infrastruktur air yang banyak, sehingga mulai tahun ini, tahun depan dan seterusnya, jumlah infrastrktur air dikasih dua kali lipat atas desakan kita di Komite II DPD RI yang membidangi Pertanian dan infratruktur. Tetapi itu saja belum cukup, bahkan 10 sampai 20 tahun APBN untuk NTT belum cuckup karena kondisi topografi NTT tidak sama dengan Jawa. NTT masih banyak sekali membutuhkan cekdam, waduk, dan embung sesuai dengan tekstur dan topogarfi kita. Bahkan infrastruktur air dibuat di setiap dusun di NTT sehgga pada musim kemarau bisa memenuhi kebutuhan air bagi manusia, pertanian, dan ternak,” katanya.

Dikatakannya, setelah melakukan kajian dengan sederet pengalaman birokarasi yang diembannya, menurut dia, pemerintah daerah jangan lagi terlalu bergantung pada APBN.

“Kita harus lebih focus penggunaan APBD pada pembangunan air. APBD seluruh Kabupaten dan Provinsi NTT harus bisa disisikan tersendiri untuk membangun cekdam, embung dan irigasi sehingga kekurangan air bisa teratasi. Jika pertanian di NTT maju maka kemiskinan di NTT akan habis, karena sektor lain akan bertumbuh. Pertanian maju, maka sektor parwisata, industri dan perdagangan akan maju. Sehingga untuk memberantas kemiskinan di NTT maka sektor pertanian harus diperbaiki. APBD seluruh Kabupaten harus disisihkan untuk infarstrktur air. Apakah ini bisa dilakukan? Kalau saya Gubernur NTT pasti bisa,” ujar Medah.

Medah menambahkan, menurut data BPS, lahan insentif yang diolah masyarakat setiap KK sekitar setengah hektar.

“Bagaimana petani bisa kaya dengan lahan setengah hektar dan air yang kurang? Maka  langkah kedua adalah harus bisa menolong rakyat agar petani bisa mengolah lahannya lebih luas. Karena di NTT jumlah lahan tidur di luar kawasan hutan mencapai 1.300.000 hektar. Belum termasuk ladang-ladang yang dikerjakan secara berpindah, dan belum termasuk juga lahan setengah hektar yang diolah secara insentif. Nah, pemerintah harus membantu masyarakat agar lahan pertanian bias lebih luas. Pemerintah harus membantu teknologi untuk mengolah lahan dengan cara menyisihkan lima persen dari setiap tahun dari total APBD untuk membeli eksafator yang kerjanya setiap hari mengolah lahan pertanian masyarakat. Jika ini menjadi berkomiten bersama seluruh kabupaten maka sekitar 2 tahun lahan tidur di NTT sudah terolah,” paparnya.

Akibat kemiskinan tersebut,  data statistik menempatkan Provinsi NTT saat ini berada pada urutan 32 Provinsi termiskin di Indonesia. Bahkan, berdasrkan hasil evaluasi badan-badan nasional menunjukan bahwa IPM NTT juga berada di nomor 32 dari 34 Provinsi di NTT.

“IPM ini terdiri dari Kesehatan, Pendidikan dan Daya Beli. Terkait daya beli, korelasinya dengan income perkapita dan NTT hanya ada di angka 7 jutaan sedangkan secara nasional sudah mencapai di atas 34 juta. Jika kita tidak serius membangun NTT maka NTT masih akan tetap seperti sekarang,” katanya.

Medah mengatakan, sebagai senator, saat ini ia diberikan tunjangan dan fasilitasi yang nyaman.

“Namun justeru saya merasa tidak nyaman ketika masyarakat NTT yang memilih saya menjadi senator masih miskin. Karena itu, NTT harus bangkit dengan memeberantas kemiskinan. Partai Golkar menugaskan saya sebagai calon gubernur dan saya siap meninggalkan kenyamanan sebagai senator, saya siap tinggalkan sona nyaman karena saya ingin NTT keluar dari kemisikinan,” kata Medah berapai-api. (rsn/rls)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment