Dokter Gadungan Ternyata Sudah Beroperasi 2 Tahun

Salah satu pasien yang dirawat dokter gadungan. Foto : balinewsnetwork/amar ola keda.

Kupang/BaliNewsNetwork— Aktivitas praktik dokter gadungan, Meki Kandamete yang melayani pengobatan kepada para pasien tanpa ada izin dari Dinas Kesehatan itu sudah dilakoninya selama dua tahun terakhir. Selain tanpa izin resmi Dinas Kesehatan Kota Kupang, kehadiran praktik dokter gadungan itu juga tanpa sepengetahuan ketua RT setempat.

Ketua RT 04/RW 02, Kelurahan Lasiana Heri Mesak mengatakan, selama menjalankan praktik, Meki tak pernah melaporkan kepadanya sebagai ketua RT. Bahkan, tetanga sekitar pun tak mengetahui bahwa Meki membuka praktik pengobatan medis layaknya seorang dokter.

Heri mengatakan, Ia baru tahu bahwa Meki membuka klinik praktik kesehatan atas laporan dari para pasien yang merasa dirugikan oleh ulah dokter gadungan itu. Sebab, selama menjalani perawatan, para pasien tak kunjung sembuh.

Selain atas laporan para pasien, Ia juga mendapat informasi dari warga sekitar bahwa di rumah tersebut melakukan aktivitas penyembuhan layaknya seorang dokter.

“Yang kita tahu kalau dia melayani pengobatan tradisional karena memasang papan nama pengobatan tradisional bukan praktik dokter,” kata Mesak kepada wartawan, Jumat (2/11/2016).

Setelah mendapatkan laporan dari para pasien dan warga sekitar, lanjutnya, Ia langsung mendatangi rumah tempat praktik tersebut dan memaksa untuk membuka pintu kamar depan dan meminta untuk membongkar papan nama yang dipasang di depan rumah.

“Saya paksa dia buka pintu kamar tempat pasien nginap dan juga papan nama dan dia ikut apa yang saya perintahkan. Namun, saya tak mencurigai kalau pengobatan kepada pasien dilakukan seperti seorang dokter,” ungkap Mesak.

Menurutnya, selama ini yang dia tahu, Meki melayani pengobatan tradiosional bukan pengobatan layaknya seorang dokter. “Jujur saya tidak pernah mengetahui aksinya tersebut. Keberadaan yang bersangkutan juga tidak melapor kepada saya sebagai RT,” akunya.

Hal yang sama juga diakui tetangga pelaku, Jemi Manu. Menurut Jemi, rumah korban setiap hari ramai dikunjungi para pasien untuk berobat. Orang-orang tersebut datang menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua. Para pasien diantar anggota keluarganya. Ada sejumlah pasien yang dirawat inap dalam waktu yang cukup lama.

“Rumah tiap hari penuh dan bahkan ada yang tidur hingga di teras rumah. Untuk masak masing-masing anggota keluarga pasien membuka dapur sendiri sampai di luar rumah,” jelas Jemi.

Warga juga mengakui tidak mengetahui persis kejelasan yang bersangkutan seorang dokter ataukah hanya sebagai tim doa. Mereka baru tahu ada praktik dokter gadungan setelah polisi melakukan penggeledahan.

Sementara itu, berdasarkan pengakuan Marsel Kase, keluarga pasien yang ikut menjaga mengatakan, perbuatan dokter gadungan tersebut sangat tidak masuk akal. Dalam proses penyembuhan dilakukan langsung pada daerah atau anggota tubuh yang sakit. Dia mencontohkan, apabila pasien sakit pada bagian kepala, pelaku langsung menyuntik kepala.

“Dia langsung suntik pada daerah sasaran yang sakit. Kalau mata yang sakit suntiknya di daerah dekat mata,” kata Marsel.

Melihat aksi dokter gadungan tersebut, Ia hanya bisa melihat dan mengamini apa yang dilakukan. Sebab, dirinya tidak begitu mengetahui bagaimana proses penyuntikan yang dilakukan oleh dokter kepada pasien. “Saya diam-diam saja karena mungkin cara untuk menyembuhkan seperti itu,” ujarnya.

Dirinya sangat berharap kepada aparat kepolisian untuk mengusut kasus tersebut hingga tuntas dan pelaku dihukum sesuai ketentuan hukum yang berlaku agar ada efek jera dan tak ada lagi peristiwa serupa di kemudian hari. (amar ola keda)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment