Sidang Pembunuhan Polisi – Sarah Bantah Bajunya Ada Darah

Sarah Connor. Foto: balinewsnetwork/pro.

Denpasar/Bali/NewsNetwork—Sidang kasus pembunuhan terhadap anggota polisi bernama Aipda Wayan Sudarsa dengan terdakwa Sarah Connor, Kamis (1/12) siang tadi dilanjutkan. Sidang masuk pada agenda pemeriksaan saksi. Ada lima orang saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) AAN Jayalantara dan Oka Ariani. Mereka adalah Samuel Yohanes, Putu Rika Agustini, Zainal Raki, Gede Suarsana, dan Gunawan.

Gede Suarsana yang berprofesi sebagai tukang ojek diperiksa lebih awal. Dihadapan majelis hakim pimpinan Made Pasek, saksi mengatakan pertama kali bertemu dengan terdakwa saat dia melintas di pantai Kuta, tepatnya di depan Hotel Pullman, sekitar pukul 2.00 Wita dini hari. Saat itu, saksi mengatakan diberhentikan oleh sopir taksi.

“Saat saya berhenti, saya melihat seorang perempuan bule yang bajunya ada noda darah,” terang saksi memulai kesaksianya.

Disebut pula, saat itu seorang wanita bule yang diketahui adalah terdakwa Sarah, meminta kepada saksi untuk mengantarkanya ke kantor polisi.

“Wanita itu (Sarah) meminta saya untuk mengantar ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan sebuah tas,” beber saksi.

Tapi, saat terdakwa Sarah hendak naik ke motornya, saksi yang mengaku trauma melihat darah langsung meninggalkan sarah.

“Saat terdakwa berbicara dengan saksi, apa saksi melihat orang lain,” tanya hakim yang dijawab saksi melihat sorang pria bule berambut gimbal sedang mencari-cari sesuatu. “Tapi saya tidak sempat berkomukasi dengan lelaki itu. Saya hanya lihat dia mencari sesuatu,” jawab saksi.

Usai meninggalkan terdakwa, saksi lalu bertemu dengan seorang pria bernama Gunawan. Kepada Gunawan, saksi menuturkan apa yang dilihat saat diberhentikan oleh sopir taksi. Setelah melaporkan kepada Gunawan, saksi kembali ketempat di mana dia bertemu dengan terdakwa Sarah. Saat tiba kembali di depan Hotel Pullman, saksi bertemu dengan sopir taksi yang memberhentikanya.

“Sopir taksi bilang Sarah sudah sudah melaporkan ke kantor polisi,” ungkap saksi.

Keterangan saksi yang melihat ada bercak darah dibaju terdakwa langsung dibantah oleh terdakwa. Terdakwa malalui penerjemahnya mengatakan, yang ada di bajunya bukanlah darah, melainkan pasir.

“Di baju saya tidak ada darah, yang ada cuma pasir,” kata terdakwa sebagaimana diterjamahkan oleh penerjemahnya.

Terdakwa juga membantah keterangan saksi yang menyebut meninggalkan terdakwa karena trauma melihat darah. Menurut Sarah, saksi meninggalkanya karena Sarah mengatakan tidak mempunyai uang untuk membayar ongkos.

“Dua kali hendak naik di atas motor saksi tapi tidak boleh karena tidak punya uang,” jelas terdakwa melalui penerjemahnya.

Saksi lain yang dihadirkan adalah Samuel Yohanes. Samuel yang juga berprofesi sebagai tukang ojek itu mengaku sempat melihat seorang pria berambut gimbal sedang memegang kerah baju seorang anggota polisi. Saksi melihat adegan itu saat sedang mengantar seorang bule.

“Kenapa saksi tidak berhenti,” tanya hakim Made Pasek yang dijawab saksi tidak enak dengan penumpang yang dibonceng.

Pria berambut gimbal yang dimaksud saksi adalah David James Taylor (terdakwa dalam berkas terpisah). Sedang polisi yang dilihat saksi adalah Aipda Wayan Sudarsa, korban pembunuhan.

“Pada saat terdakwa David memegang kerah baju korban, apakah yang dilakukan oleh terdakwa Sarah,” tanya Hakim Made Pasek lagi.

“Sarah hanya melihat sambil mengomel. Tapi apa omelan Sarah saya tidak mendengarnya,” pungkas Yohanes. (pro)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment