Kasus HIV/AIDS, Buleleng  di Peringkat  Tiga

Pengarahan bahaya HIV/AIDS kepada para generasi muda. bnn/in

Singaraja/BaliNewsNetwork–Perkembangan kasus HIV/AIDS yang terjadi belakangan ini sangat memprihatinkan. Untuk Provinsi Bali, Kabupaten Buleleng berada di peringkat ketiga berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Secara kumulatif, kasus HIV/Aids di Bali hingga Oktober tahun 2016 sebanyak 15.200 kasus. Untuk kasus terbanyak ditemukan di Kota Denpasar yakni 6.018 kasus, kasus terbanyak kedua di Kabupaten Badung sebanyak 2.451 kasus, sementara yang ketiga ditemukan di Kabupaten Buleleng yakni sebanyak 2.339 kasus HIV/AIDS.

Salah satu program yang kini tengah diberdayakan untuk menekan kasus HIV/AIDS yakni Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN).

Menurut Kasi Pengembangan dan Pemberdayaan Pemuda Disdikpora Bali Made Dana Tenaya, KSPAN yang dimotori para siswa ini ditempatkan sebagai ujung tombak, agar bisa memberikan sosialisasi baik itu kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya termasuk juga anak anak muda. Apalagi, dari belasa kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Bali, tidak sedikit pula ditemukan pada usia produktif.  Artinya, jka melihat masa inkubasi perkembangan virus HIV di dalam tubuh manusia, usia produktif tersebut sudah terjangkit sejak usia remaja.

”Kita tahu sendiri bahwa kasus HIV Aids ini begai fenomena gunung es. Nah siswa yang tergabung dalam KSPAN inilah yang nantinya akan bertugas untuk bisa menekan kasus tersebut. Hanya saja, upaya pencegahan juga harus dimulai dari diri mereka sendiri, dengan tidak terjerumus ke sana dengan membentengi dirinya,” jelas Made Dana Tenaya ketika memberi pengarahan bahaya HIV/AIDS kepada para siswa di Singaraja, Kamis (2/12).

Menurut Dana Tenaya, pengenalan secara dini ini merupakan hal yang paling penting untuk dilakukan. Maka KSPAN ini lebih banyak melakukan sosialisasi dengan menyasar yang seusia dengan mereka.

Sementara itu, salah seorang siswa yang terlibat dalam KSPAN Dewa Ngakan Made Ari Putra mengatakan, upaya untuk melakukan sosialisasi terhadap bahaya HIV/AIDS terkadang menemuai kendala. Banyak pihak justru yang menolak untuk diberikan pemahaman.

Meski demikian, ia bersama anggota KSPAN lainnya tetap semangat, mengingat tugas itu merupakan tanggung jawab yang harus dilaksanakan sebagai upaya untuk menekan kasus HIV/AIDS.

”Ya kadang juga ada kendalanya, terutama ketika kami berusaha memberikan sosialisasi terkait dengan bahaya HIV Aids melalui pembagian brosur, banyak justru yang menolak, atau bahkan membuang begitu saja brosur yang kami berikan. Tapi kami tidak patah semangat, karena ini menjadi salah satu tanggung jawab yang dibebankan kepada kami untuk penanggulangan virus HIV/AIDS,” ungkapnya. (ina)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment