Aniaya Tamara Bleszynski, Sobrat Dituntut 10 Bulan Penjara

Tamara Bleszynski dan I Wayan Putra Wijaya alias Sobrat.  foto/tribunbali

Denpasar/BaliNewsNetwork-Wayan Putra Wijaya alias Sobrat yang menjadi terdakwa dalam kasus penganiayaan terhadap artis papan atas Indonesia, Tamara Bleszynski, Rabu (30/11) kemarin  kembali dihadirkan di Pengadilan Negeri Denpasar untuk diadili. Dihadapan majelis hakim pimpinan Gde Ginarsa, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Bela Putra Admaja menyatakan terdakwa Sobrat terbukti melakukan penganiayaan terhadap Tamara Bleszynski .

Pebuatan terdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 351 ayat (1) KUHP. Atas hal itu, Jaksa Kejari Denpasar itu menuntut terdakwa dengan hukuman 10 bulan penjara dengan masa percobaan selama 1 tahun.

Seperti diberitakan sebelumnya, Tamara Bleszynski yang belakangan ini sering terlihat di Bali, sebagai saksi korban di PN Denpasar beberapa waktu lalu mengatakan, selain dianiaya terdakwa, artis berdarah Indo itu juga pernah diancam.

“Saya juga pernah diancam mau dibunuh,” ungkap Tamara di muka sidang.

Tamara sendiri mengaku mengenal terdakwa karena dikenalkan oleh seseorang di salah satu kafe di Bali tahun 2014 silam.

“Orang yang mengenalkan saya itu mengatakan bahwa Sobrat adalah fans fanatik saya,” ujar Tamara.

Setelah berkenalan, kata Tamara, Sobrat sering berperilaku aneh terhadapnya.

“Dia (Sobrat) juga pernah mengatakan kalau saya adalah istrinya sejak 100 tahun lalu dan ia minta anak dari saya,” ujar Tamara.

Dikatakan pula, perseteruan ini terjadi berawal pada 31 Agustus 2015. Sobrat sempat terlibat cekcok dengan Andrian. Tapi cekcok itu berakhir damai di Polsek Kuta Utara. Salah satu butir perdamainnya adalah Sobrat berjanji tidak akan menggangu Tamara dan keluarganya lagi.

Meski sudah berjanji tidak akan menganggu Tamara, namun Sobrat semakin menjadi. Malah Tamara mengaku sempat beberapa kali diteror akan dibunuh Sobrat.

Puncaknya terjadi pada 14 April 2016 lalu. Saat itu, Tamara yang berboncengan dengan Andrian dihadang oleh Sobrat yang berboncengan dengan temannya di Jalan Semat, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung.

Sobrat, kata Tamara, menjambak rambut Tamara saat masih berada di atas motor. Saat menjambak, Sobrat berulang kali mengatakan “Tamara kamu punya karma di Bali, kamu punya karma di Canggu”.

“Setelah dijambak, saya merasakan sakit di kepala. Saya juga tidak bisa beraktivitas selama satu minggu karena saya takut keluar rumah,” terangnya.

Tapi, keterangan Tamara langsung dibantah oleh terdakwa Sobrat. Melalui pengacaranya, Iswahyudi Edy, bahwa antara terdakwa dan saksi korban pernah punya hubungan dekat. Ini dibuktikan dengan sebuah foto yang menunjukan  Tamara yang sedang merokok bersama Sobrat. (pro)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment