Indonesia Menghadapi Masalah Kesehatan Triple Burden

Foto bersama saat memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-52. Foto: balinewsnetwork/ amar ola keda.

Kupang/BaliNewsNetwork—  Sehat itu harus dijaga, bisa menjadi gaya hidup sehat dan seluruh masyarakat berpartisipasi aktif dalam jaminan kesehatan nasional.
Dengan demikian, bisa terbangun kemandirian masyarakat, masyarakat yang sadar akan kesehatan untuk mencapai Indonesia yang kuat.

“Tantangan kesehatan saat ini adalah indonesia menghadapi masalah kesehatan triple burden, yaitu masih tingginya penyakit inveksi, meningkatnya penyakit tidak menular dan muncul kembali penyakit-penyakit yang seharusnya sudah teratasi,” ujar Frans Lebu Raya  Gubernur NTT, dalam sambutannya memperingati HKN ke-52 di Lapangan Upacara RST Wirasakti Kupang, Selasa (15/11/2016).

Menurut Global Burden of Disease 2010 dan Health Sector Review 2014, lanjut Gubernur, kematian yang diakibatkan oleh penyakit tidak menular yaitu stroke menduduki peringkat pertama. Trend ini kemungkinan akan berlanjut seiring dengan perubahan perilaku hidup di masyarakat.

Tentunya, hal ini menjadi ancaman bagi produktivitas bangsa kita. Usia produktif yang besar dan seharusnya memberikan kontribusi pada pembangunan akan terancam, apabila derajat kesehatanya terganggu oleh penyakit tidak menular dan perilaku hidup yang tidak sehat. Oleh karenanya, diperlukan upaya pendekatan promotif dan preventif yang sangat efektif untuk menjawab berbagai tantangan kesehatan. Karena pada dasarnya, pencegahan penyakit menular maupun tidak menular sangat bergantung pada perilaku individu. Didukung pula kualitas lingkungan, ketersediaan sarana dan prasarana, peningkatan pelayanan kesehatan, penciptaan sumber daya kesehatan yang berkualitas serta dukungan regulasi.

Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M (K), dalam sambutan yang dibacakan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya mengatakan, pringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-52 merupakan momen untuk berbagi tantangan, menguatkan komitmen, meningkatkan tekad dan semangat kita semua, untuk lebih memberi makna pada masyarakat akan pentingnya kesehatan.

Semangat melayani, semangat menggerakan, semangat untuk mampu menangkap aspirasi masyarakat, semangat memandirikan dan memberdayakan, dalam pencapaian derajat kesehatan, harus menjadi konsep pembangunan nasional kita.

Lebih lanjut Menteri mengatakan, pada 15 November mendatang, Presiden RI, Ir Joko widodo akan meluncurkan  Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

Tujuan GERMAS ini agar masyarakat berperilaku sehat, diharapkan berdampak pada kesehatan yang terjaga, terciptanya lingkungan bersih. Dengan demikian dalam kondisi sehat, produktivitas masyarakat meningkat dan biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk berobat berkurang. GERMAS diluncurkan seiring dengan program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga.

Diakhir sambutannya, Gubernur Lebu Raya menyampaikan lima hal penting yang menjadi perhatian dalam rangka mewujudkan visi pembangunan nasional,  sejalan dengan tema HKN tahun ini yaitu, Pertama, Pembangunan kesehatan merupakan salah satu unsur penopang peningkatan Indeks Pembangunan Manusia. Untuk itu sebagai investasi, orientasi pembangunan kesehatan mesti lebih didorong pada aspek promotif dan preventif tanpa melupakan aspek kuratif dan rehabilitatif. Kedua, Kementrian kesehatan mengapresiasi kepada pemerintah kabupaten/kota, serta provinsi yang telah mengalokasikan 10 % dari anggaran pembangunan untuk sektor kesehatan. Ketiga, Pelaksanaan Gerakan Masyarakat Hidup sehat harus dimulai dari keluarga, karena keluarga adalah bagian dari masyarakat terkecil yang membentuk kepribadian, dari proses pembelajaran hingga menuju kemandirian. Keempat, Diperlukan kerjasama baik lintas program maupun lintas sektor, akademisi, kepala daerah, pelaku usaha, organisasi masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab bersama akan masa depan bangsa, khususnya kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan bangsa lain. Kelima, kembali pada Gerakan Revolusi Mental di jajaran kesehatan dengan tiga nilai utama yaitu, integritas, kereja keras dan gotong royong yang harus menjadi budaya kerja bangsa Indonesia  agar dapat memberi warna dan arah pada pembangunan kesehatan.

Hadir dalam upacara tersebut, Unsur Forkompimda Provinsi NTT, Para Pejabat Sipil, TNI dan Polri, Kepala Biro Humas Setda Provinsi NTT, Drs. Semuel Pakereng, Kepala Biro Kesra, Bartolomeus Badar. Hadir pula ASN yang terdiri dari para Dokter, Bidan, dan Perawat Lingkup Pemerintah Provinsi NTT, Para mahasiswa dari beberapa Perguruan Tinggi dan Universitas di Bidang Kesehatan, POLTEKES, Stikes CHMK, Stikes Nusantara dan Stikes Maranatha Kupang. (amar ola keda)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment