Inflasi Bali Terbanyak Bersumber dari Komponen Harga  Bergejolak

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana

Denpasar/BaliNewsNetwork-Bali dengan jumlah penduduk 4,1 juta jiwa memiliki keunikan tersendiri dibandingkan daerah lainnya yakni sebagai daerah tujuan wisata dengan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik yang mencapai 10 juta orang, Bali harus menyiapkan ketersediaan pangan yang cukup. Bali juga memiliki keunikan dengan cukup banyak kegiatan upacara keagamaan dan hari raya keagamaan (misalnya Nyepi, Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi, dan Siwaratri), tentunya hal ini memerlukan supply komoditas yang memadai agar tidak menimbulkan tekanan inflasi di Bali.

Triwulan II Tahun 2016, Pertumbuhan Ekonomi Bali Melebihi Nasional

“Dengan kondisi tersebut, inflasi Bali selama ini lebih banyak bersumber dari komponen harga bergejolak yaitu komoditas yang berasal dari tanaman pangan dan hortikultura. Oleh karena itu, berbagai upaya pengendalian inflasi telah dan akan terus dilakukan oleh seluruh TPID se-Provinsi Bali, lebih difokuskan untuk menstabilkan komponen komoditas harga bergejolak, antara lain melalui upaya mencukupi supply melalui peningkatan produktifitas maupun memperpendek mata rantai jalur distribusi,” kata Causa Iman Karana, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Bali ketika menerima rombongan Capacity Buliding dan Studi Banding Tim Pengendalai Inflsi Daerah dari 9 kabupaten/kota se-indonesia, di gedung BJ, Jl, Tantular, Rnon, Denpasa, Kamis (27/10).

Menurut Iamn Karana, berbagai langkah strategis bersama yang telah ditempuh dalam wadah TPID telah menunjukkan capaian yang menggembirakan dengan tingkat inflasi tahun 2015 sebesar 2,75% (yoy) turun dari 8,43 % di tahun 2014 dan merupakan capaian inflasi yang terendah dalam kurun waktu 29 tahun terakhir.

Melalui upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh TPID dengan capain inflasi yang berada pada level yang rendah ikut mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan daya beli masyarakat. Harga yang terkendali juga ikut mendorong tingkat kemiskinan di Bali turun hampir 0,5%, dari 4,74% pada Maret 2015 menjadi 4,25% di periode Maret 2016, atau hamper 1% bila dibandingkan tingkat kemiskinan September 2015 yang mencapai 5,25%. Rendahnya capaian inflasi di 2015 (sebesar 2,75% dibandingkan 2014 sebesar 8,43%) juga turut mendorong membaiknya tingkat pemerataan kesejahteraan di Bali. Hal ini tercermin dari membaiknya indeks gini rasio menjadi 0,38 di tahun 2015 dari sebelumnya 0,42 di tahun 2014.

“Guna mengendalikan inflasi Provinsi Bali 2016 hingga 2018, kami bersama dengan 9 (sembilan) TPID Kabupaten/Kota se-Bali yang telah terbentuk sudah melakukan berbagai pertemuan yang intensif dan telah mempersiapkan langkah-langkah antisipatif dan action planyang dituangkan di dalam roadmap pengendalian inflasi provinsi Bali dan 9 Kabupaten/Kota dan telah ditandatangani bersama pada 5 April 2016,” beebrnya.

TPID Provinsi Bali dan kabupaten/kota terus berupaya untuk melakukan pengendalian harga melalui berbagai upaya strategis dan efektif, sehingga pada periode September 2016 inflasi sepenjang tahun Provinsi Bali masih berada dalam kisaran 2,38% (ytd). Dengan kerja keras dan upaya yang dilakukan secara konsisten,  kami yakin inflasi Bali pada tahun 2016 akan berada dalam kisaran 3,39% (yoy) ± 1%.

“Dalam rangka pengendalian inflasi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali mengembangkan 13 klaster dan demplot pada komoditi penyumbang inflasi, yaitu komoditi padi dan bawang merah di Kabupaten Gianyar, kopi dan bawang merah di Kabupaten Bangli, padi di Kabupaten Jembrana, bawang merah di Kabupaten Buleleng serta sapi, bawang merah dan cabai merah di Kabupaten Karangasem menggunakan teknologi terbarukan pupuk organik berbasis MA-11 yang telah terbukti mampu meningkatkan produktifitas dan mendukung program Bali Go Green & Clean.,” pungkasnya. (rsn)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment