Wardiman Djojonegoro, Pensiunan Menteri Kini Jualan Buku

Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegero foto bersama STIKOM Bali Group usai bedah bukunya. bnn/rahman

Denpasar/BaliNewsNetwork- Biasanya setelah pensiun, para pejabat menikmati hari tua dengan ongkang-ongkang di rumah, sambil mengurus cucu atau menjalankan hobinya, tetapi itu berbeda dengan Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 1993-1998 itu kini road show ke daerah guna mempromosikan bukunya berjudul  “Sepanjang Jalan Kenangan” dengan sub judul “Bekerja dengan Tiga Tokoh Besar”.

Kamis (13/10) Wardiman hadir di STIOM Bali untuk membdaha bukunya tersebut. Menurut Wardiman, menulis buku bukanlah prosepek bisnis yang bagus. Sebab, berdasarkan hasil penelitian, budaya membaca orang Indonesia hanya 20 % dari jumlah penduduk. Itulah maka jumlah penerbitan buku hanya 4%. Akibatnya, penulis buku di Indonesia bukanlah profesi yang menggembirakan dari sisi ekonomi; kecuali beberapa penulis terkenal seperti Pramudya Ananta Tur.

“Kondisi ini berbeda dengan Amerika. Karena minat bacanya tinggi, penerbit bukunya banyak, sehingga para penulis di sana kaya-kaya,” sebutnya.

Dosen,sstaf dan mahasiswa STIKOM Bali antusias bedah buku Prof. Wardiman

Keluarga STIKOM Bali Group antusias ikuti bedah buku Prof. Wardiman

Tetapi dia nekat menulis buku, karena dia ingin mewariskan sesuatu kepada generasi muda Indonesia.

“Ini terinspirasi dari pertanyaan seorang putri SMP di Kalimantan. Waktu itu saya ditanya, apa kiat-kiat sukses Pak Wardiman. Saya jawab tidak ada dan saya tidak berpikir perjalanan hidup saya akan bermanfaat bagi orang lain. Tetapi kemudian saya berpikir, perlu ada yang diwariskan kepada anak cucu saya, dan siapa tahu berguna untuk orang lain. Itulah maka buku ini saya tulis,” kata Wardiman ketika membedah bukunya di STIKOM Bali. “Kalau saya tahu alamat anak itu, mau saya kirimkan (buku) ke dia juga,” lanjutnya.

Selain mengisahkan perjalanan hidupnya sejak dilahirkan di Pamekesan, Madura, 22 juni 1934 hingga tahun 2014, buku setebal 603 halaman ini mengungkap  kiprah Wardiman selama bekerja dengan  Gubernur Ali Sadikin (sebagai PNS di DK Jakarta), dengan BJ Habbibie  di Kementerian Negara Ristek  dan BPPT, dan  dengan Presiden Soeharto ketika Wardiman dipercayakan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Prof. Wardiman memberikan bukunya kepada wakil SMK TIBG Denpasar

Prof. Wardiman memberikan bukunya kepada wakil SMK TIBG Denpasar

Melalui buku ini, sekaligus menjawab pertanyaan anak kecil tadi, Wardiman ingin mewariskan tiga hal yang selama ini dia jalani.

“Pertama, bekerja keras; kedua bekerja tanpa pamrih; dan ketiga menikmati kepuasan dari bekerja tadi cukup di dalam hati,” kata Wardiman, yang juga Ketua Yayasan Putri Indonesia sejak  tahun 2004 hingga  sekarang ini.

Menariknya, dalam sesi tanya jawab, Wardiman juga diminta menceritrakan pengalamannya selama mengurus putri-putri cantik dari seluruh Indonesia, baik selama event tahunan pemilihan Putri Indonesia maupun Miss Universe.

“Di mana-mana kalau saya ceramah, salah satu pertanyaan ya begini, urusan yang cantik-cantik itu,” selorohnya,  membuat Ketua STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan, Pembina dan Pengawas Yayasan Widya Dharma Shanti Prof. Dr. I Made Bandem, MA dan Drs. Satria Dharma serta serta seluruh hadirin tertawa juga.

Dia mengisahkan, pengalaman menariknya adalah ketika mengirim Atika Sari Dewi ke ajang Miss Universe di Bangkok.

“Dua hari saya didemo oleh FPI, tapi akhirnya bisa jalan,” sebutnya.

Soal resep yang membuatnya terlihat tetap berenergi di usia 82 tahun, menurut Wardiman karena terbiasa berolah raga sejak masih muda hingga sekarang ini., “Dan mungkin karena urus yang cantik-cantik tadi,” tuturnya sambil tertawa. (rsn)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment