Wakil Rektor 3 Institut STIAMI Jakarta Kaget, STIKOM Bali 6.000 Mahasiswa

Rombongan Institut STIAMI Jakarta foto bareng manajemen STIKOM Bali. bnn/rahman

Denpasar/BaliNewsNetwork-Sebanyak 14 karyawan Institut STIAMI Jakarta Selasa (11/10/2016) siang berkunjung ke STIKOM Bali. Mereka diterima oleh Ketua STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan dan jajarannya.

Pimpinan rombongan  Dr. Agus Cholic menjelaskan, tujuan kunjungan ini untuk melihat langsung perkembangan STIKOM Bali yang menurutnya sangat fenomenal.

stiami-jakarta-1

Rombongan Institut STIAMI Jakarta serius menyimak penjelasan Dr. Dadang Hermawan

“Kami ingin mendengar cerita langsung dari Pak Dadang, bagaimana mengelola kampus ini sehingga begitu dikenal luas oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia. Informasi yang kami terima, pak Dadang adalah seorang entrepreneur yang sukses. Tapi selama ini kami hanya tahunya dari media massa. Itulah yang mendorong kami datang ke sini,“ kata Agus Cholic, yang juga Wakil Rektor 3 Institut STIAMI Jakarta.

Dadang Hermawan kemudian menceritrakan pertama kali membangun STIKOM Bali, hanya dengan modal awal Rp 1 M.

“Padahal tanah ini 4.000m2, harganya waktu itu Rp 16 M. Kami bersaing dengan Mahkamah Agung yang ingin membeli dengan harga Rp 18 M untuk membangun kantor Pengadilan Tinggi Denpasar. Entah mengapa pemilik tanah malah lebih senang saya yang beli, dengan mencicil. Saya kasih DP 1 M, dengan perjanjian sisanya saya lunasi dalam waktu 1 tahun. Kalau tidak dilunasi berarti uang DP tadi hilang. Saya sempat empot-empotan tapi akhirnya pada minggu ketiga sebelum jatuh tempo, bank BPD Bali mengucurkan dana Rp 10 M. Tapi kan masih kurang Rp 5 M tuh. Akhirnya saya take over ke BNI. Setelah itu, datang seorang dosen dari Unud, minta dia yang bangun, bayarnya belakangan gak apa-apa. Jadi praktis tanah dan gedung  ini hanya bermodalkan Rp 1, sisahnya hutang. Semua hutang itu baru lunas 3 tahun lalu,” beber Dadang sambil tertawa.

Suasana pertemuan Institut STIAMI Jakarta dengan manajemen STIKOM Bali

Suasana pertemuan Institut STIAMI Jakarta dengan manajemen STIKOM Bali

Dadang kemudian menguraikan mekanisme manajemen di STIKOM Bali, terutama dari sisi  sistem administrasi dan pemasaran sebagai ujung tombak.

“Tapi pada intinya kami bekerja dengan niat yang baik untuk membesarkan STIKOM Bali, tidak punya maksud lain, makanya mahasiswa kami lebih dari 6.000 orang untuk 3 program studi,” sergahnya.

Mendengar penjelasan seperti itu Agus Cholic dan rombongannya sontak kaget.

Rombongan Institut STIAMI Jakarta merasa betah di loby STIKOM Bali

Rombongan Institut STIAMI Jakarta merasa betah di loby STIKOM Bali

“Pantas saja, kami diinstruksikan oleh pak Panji (Rektor Institut STIAMI-red) untuk belajar banyak dengan pak Dadang. Kami punya 12.000 mahasiswa tapi itu tersebar di 10 kampus,  di Jakarta, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Depok, dan Tangerang Selatan. Jadi hitung-hitung kami masih kalah jauh, makanya kami perlu belajar di sini,” kata Agus sambil tertawa.

Mereka juga sangat kaget dengan begitu banyaknya unit kegiatan mahasiswa (UKM) di STIKOM Bali yang mencapai 35 UKM. “Dananya dari mana untuk membiayai kegiatan sebanyak itu?,” tanya Agus.

Rombongan Institut STIAMI Jakarta foto bareng manajemen SYIKOM Bali dan pengurus Senat Mahasiswa dan Balma STIKOM Bali

Foto bareng manajemen, Senat Mahasiswa dan Balma STIKOM Bali

“Dalam setahun, total kegiatan UKM sebanyak 450 kegiatan, menghabiskan dana sekitar Rp 3 miliar, tapi kami hanya mengeluarkan dana Rp 700 juta dari kampus. Sisanya mahasiwa yang mencari sendiri karena kami mendidik mahasiswa untuk mandiri,” terang Dandy Hostiadi dari Bagian Kemahasiswaan.

Usai berdiskusi dengan Dadang Hermawan dan jajarannya, kemudian rombongan meninjau ruang laboratorium robotic, laboratorium seni dan budaya, dan ruang Pusat Kerja Sama Humas dan Pemasaran. Selanjutnya rombongan menuju  Bandara Ngurah untuk kembali ke Jakarta. (rsn)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment