Polisi Tutup Galian C, Pekerja Tuntut Upah

Polisi dan aparat desa menghentikan aktivitas galian C di Desa Yehembang Kauh, Jembrana. bnn/don

Jembrana/BaliNewsNetwork-Tim gabungan dari Polsek Mendoyo dan aparat Desa Yehembang Kauh, Selasa (11/10/2016) siang menutup aktivitas Galian C di desa itu.

Penutupan dilakukan karena diprotes warga lantaran truk bermuatan material galian merusak jalan desa. Akibat penutupan tersebut para pekerja menuntut segera dibayar upah.

Tim gabungan yang dipimpin Kapolsek Mendoyo, Kompol Gusti Agung Sukasana dengan melibatkan belasan personel termasuk Babinkamtibmas Desa Yehembang Kauh. Dari pengecekan tersebut Kapolsek Mendoyo langsung menghentikan sementara kagiatan Galian C di Banjar Sekar Kejula, Desa Yehembang Kauh.

“Aktivitas Galian C di Banjar Sekar Kejula itu kami hentikan karena izinnya telah habis per tanggal 6 Oktober 2016  lalu,” terang Sukasana, Selasa (11/10/2016).

Galian C ini dikelola I Ketut Artawan, asal Kelurahan Sangkar Agung, Kecamatan Jembrana. Selain izinnya sudah mati, galian tersebut dihentikan karena ada penolakan dari warga sekitar. Terutama lantaran merusak jalan, sementara pemilik galian tidak kunjung menempati janjinya untuk memperbaiki jalan.

“Menurut warga, pemilik galian hanya janji-janji tapi enggan memperbaiki jalan. Terbukti hingga saat ini jalan tersebut tidak pernah diperbaiki. Warga meminta pihak provinsi tidak memberikan perpanjangan izin,” tutur Sukasana.

Sementara galian yang berlokasi di Banjar Munduk Anggrek, Desa Yehembang Kauh, Kapolsek Mendoyo hanya memberikan arahan kepada pemilik galian. Ia diminta  menaati kesepakatan yang pernah dibuat di desa. Pemilik galian diminta tidak melayani truk yang tidak memakai penutup terpal dan segera melakukan perbaikan jalan jika ada kerusakan.

“Kami beri arahan karena izin galiannya masih berlaku hingga November 2016. Kami juga meminta pemilik galian selalu berkordinasi dengan warga termasuk pihak BPD agar tidak ada miskomonikasi,” tutup Sukasana.

Seorang pekerja galian, WTM, meminta pemilik galian segera membayar upah kerja yang belum pernah diterimanya. Menurut WTM, sejak galian dibuka hingga izin galian C habis, ia belum pernah mendapat gaji. Padahal ia dijanjikan upah harian Rp. 100 ribu per hari setelah diberi tugas menjaga galian dan mencatat setiap truk yang mengambil material galian.

“Sudah enam bulan saya bekerja. Namun saya baru dikasi uang Rp. 200 ribu saat hari raya Galungan lalu. Setelah itu belum pernah dikasih apa-apa,” ujarnya. (don)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment