Bocah Penderita Gizi Buruk Meninggal

Kondisi Santry Ayu saat masih hidup. bnn/ist

Kupang/BaliNewsNetwork-Suara tangisan memecah kesunyian, mengagetkan penghuni Rumah Sakit Silom Kupang, NTT, Senin (10/10/2016), sekitar pukul 07.30 wita pagi tadi.  Sungguh menyayat hati, tangisan itu ternyata dari Hamida Abdullah,  ibunda dari bocah penderita gizi buruk, Santry Ayu (7).

Ayu, bocah kelas 1 SD asal Rt 07 Rw 04 Desa Peusawa, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, NTT itu meninggal dunia akibat menderita gizi buruk selama tiga bulan. Sejak Ayu jatuh sakit, ayahnya, Ismail Beda rela ke Malaysia menjadi buruh guna mencari uang demi pengobatan anakya.

“Awalnya sering mengalami sakit perut seperti kembung. Sebulan kemudian mulai alami muntah-muntah pada saat makan sehingga dia (Ayu) susah BAB,” ujar Lambertus Lama, keluarga dekat Ayu kepada watawan, Senin (10/10/2016).

Dengan modal kartu BPJS, kata Lambertus, korban dibawa ke RSUD Lewoleba dan sesuai hasil diagnosa dokter, Ayu mengalami penumpukan kotoran di usus dan lambung dalam stadium kronis.

Sesuai saran dokter, Ayu akhirnya dirujuk ke Larantuka, namun karena tidak memiliki dokter spesialis, Ayu dirujuk ke RS Bukit Lewoleba. Setelah dipemeriks oleh dokter di RS Bukit, Ayu dirujuk ke RS Siloam Kupang sejak, Sabtu (8/10/2016).

Lambertus mengatakan, karena kekurangan dana pihak keluarga mengajukan permohonan bantuan ke Dinas Sosial Kabupaten Lembata. Sayangnya, permohonan itu ditolak dengan alasan dinas tak miliki anggaran.

“Kami orang miskin, untuk ke Kupang butuh anggaran banyak sehingga kami ajukan ke Dinsos Lembata untuk membantu  biaya ke Kupang dengan melampirkan surat keterangan miskin dari desa namun ditolak,” kata Lambertus.

Yos Blikololong, keluarga Ayu di Kupang menambahkan, saat pasien  tiba di Kupang, dirinya langsung mengajukan bantuan biaya pengobatan ke Dinas Sosial NTT, namun, hasilnya permohonan itu ditolak. Bahkan, saat Ayu meninggal dunia, dirinya kembali mengajukan permohonan bantuan dana pemulangan jenazah. Namun, lagi-lagi dinas beralasan tak memiliki dana.

“Masa hanya untuk membantu kepulangan jenazah saja Dinsos tak punya dana. Mereka dari keluarga miskin seharusnya dibantu. Karena tidak dibantu Dinsos, saya nekad minta bantuan di salah satu anggota DPR NTT dan syukur dia membantu kami dari peti jenazah hingga biaya perjalanan dari Kupang ke Lembata,” ucap Yos. (Amar Ola Keda)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment