Warga: Saya Saksi Kebiadaban Para Pelaku

TKP pembunuhan Heri Lamawuran. bnn/amar ola keda

Kupang/BaliNewsNetwork- Seorang warga Rt.13 Rw 03, Kelurahan Lasiana, Kota Kupang, NTT yang berdiam persis di depan kos khusus putri, lokasi tempat kejadian perkara (TKP), mengaku menyaksikan langsung kebrutalan sekelompok mahasiswa yang melakukan penyerangan hingga menyebabkan terbunuhnya  Xaverianus Lawan Geroda alias Heri Lamawuran (20) pada Jumat (7/10/2016) lalu.

“Sekitar jam 2.00 wita saya keget dari tidur karena suara lemparan seng. Saya bangun dan hanya mampu lihat dari jendela. Mereka sekitar 20 orang, ada yang pegang batu dan lainnya senjata tajam,” tutur Welem Henuk kepada wartawan, Sabtu (8/10/2016).

Kasus Pembunuhan Mahasiswa, Polisi Tetapkan Empat Tersangka

Welem menuturkan, setelah para pelaku puas melakukan pelemparan, dia melihat sekitar 10 orang masuk ke dalam halaman kos sedangkan penghuni kos masuk dan bersembunyi dalam kamar. Mereka menghancurkan kaca jendela dan merusak meteran listrik. Seketika suasana menjadi gelap, hanya terlihat percikan api dari meteran listrik yang dirusaki.

Selang beberapa menit, lanjut Welem, para pelaku merusaki sejumlah sepeda motor yang terparkir di halaman. Suasana menjadi terang kembali saat para pelaku membakar sepeda motor. Usai membakar, sebagian pelaku masih terus melempari kos.

Saat itu, dari kejauhan dia mendengar teriakan minta tolong. Ternyata teriakan tolong itu dari korban pembunuhan.

“Saya sempat mendengar teriakan minta tolong saya mau keluar tapi takut, apalagi gelap, tetangga lain juga tidak berani keluar,” tutur Welem.

Setelah melihat situasi aman, dia memberanikan diri keluar menuju lokasi kejadian. Saat itu, dirinya bersama seorang tetangga kaget melihat korban tergelatak bersimbah darah.

“Kami kaget saat lihat korban bersimbah darah. Ada seorang tetangga anggota Polwan yang sempat datang dan menelepon minta bantuan polisi dan mobil dan melarikan korban ke rumah sakit,” ucap Welem.

Ketua Rt 13 Rw 03, Frederick Manafe saat ditemui di kediamannya, Sabtu (8/10/2016) mengaku prihatin dengan kelakuan mahasiswa yang menghuni asrama milik Pemda Alor itu. Karena, menurut dia sering berulah kayak preman.

Fredi mengaku acara syukuran wisuda itu sudah mendapat izin darinya. Namun, dia memberi himbauan agar acaranya sampai pukul 12.00 wita. Dia kaget, saat didatangi beberapa anggota polisi yang melaporkan jika ada mahasiswa yang terbunuh di acara wisuda itu.

“Mereka datang minta izin dan saya imbau mereka acaranya cukup sampai jam 12.00,” kata Fredi.

Dia berharap, di wilayah itu, harus dibangun pos polisi dan pengadaan lampu jalan.

“Warga di sini hampir semuanya mahasiswa dari berbagai daerah sehingga sangat rawan terjadi perkelahian. Saya harap Pemkot bisa mengadakan lampu jalan dan pos polisi,” harap Fredi. (Amar Ola Keda)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment