Penyesalan Seorang Ayah Setelah Relakan Anak Jadi TKW Malaysia

Direkrut PIAR Sarah Lery Mboik bersama Marten Nenufa-ayah korban (pakai sarung) mendatangi Polda NTT, Kamis (6/10/2016)

Kupang/BaliNewsNetwork-Marten Nenufa (58) warga Rt 7 Rw 4 Dusun 3, Desa Mio, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT harus siap menerima kenyataan pahit.

Anak wanitanya, Damaris Neonufa (20) yang sudah ia relakan untuk dibawa para perekrut ke Malaysia sebagai TKW kini dikabarkan meninggal dunia pada 14 September 2016 lalu.

Kabar kematian anak semata wayangnya itu didapat dari BNPTKI NTT pada 28/9/2016 lalu. Sementara informasi dari BP3TKI NTT jenazah Damaris akan tiba pada 8/10/2016 mendatang.

“Saya menyesal, sungguh menyesal anak saya sekarang sudah meninggal. Saat itu saya tergoda dengan iming-iming si perekrut, katanya gaji besar makanya saya relakan anak saya menjadi TKW,” ujar Marten kepada wartawan saat mendatangi kantor PIAR NTT di Kupang, Kamis (6/10/2016).

Marten menuturkan, di tahun 2012 dirinya didatangi seorang perekrut bernama Abraham Beti dengan membawa sejumlah dokumen PJTKI. Namun, dia lupa nama PT tempat perekrut bernaung. Saat itu, dia diyakinkan jika anaknya akan mendapat gaji besar jika sedia menjadi TKW di Malaysia. Setelah mendapat persetujuan, lanjut Marten, dia diberi uang sebesar Rp 2 juta sebagai uang sirih pinang.

“Perekrut beri saya uang 2 juta, katanya uang sirih pinang. Setelah urus dokumen di desa, besoknya anak saya langsung dibawa ke Kupang dan selanjutnya ke Malaysia,” kata Marten.

Marten menambahkan, sejak keberangkatan pada 2012, Damaris (anaknya) baru memberi kabar melalui telepon pada 2014. Saat itu, anaknya sempat mengadu jika dirinya bekerja tanpa menerima gaji dan masa kontraknya diperpanjang hingga 2016. Damaris baru mengirim uang sejak 2015 lalu.

“Anak saya telepon terakhir pada 9 September 2016 lalu. Dia suruh didoakan karena dia sedang sakit,” papar Marten.

Kepala BP3TKI, Tito Tirang mengatakan, kematian Damaris diperoleh pihaknya dari KBRI Malaysia pada 21/9/2016 lalu. Dia mengaku kesulitan mencari alamat korban karena Damaris direkrut oleh PJTKI ilegal.

“Kami kesulitan mencari tahu alamat korban karena tidak ada nama korban di daftar TKW NTT. Apalagi dokumen korban juga dipalsukan. Memang nama lengkap korban serta nama desa korban tidak dirubah tetapi Kartu Keluarga (KK) korban dipalsukan, korban yang berasal dari Kabupaten TTS dipalsukan dari Kabupaten Nagekeo. Namun, akhirnya kami berhasil menemui orang tua korban setelah mencocokan dengan surat kelahiran korban,” jelas Tirang.

Informasi terakhir dari KBRI Malaysia, lanjut Tirang, korban meninggal dunia di rumah sakit karena menderita radang otak.

“Info terakhir yang kami dapat jenazah korban akan tiba di Kupang pada 8/10/2016 mendatang melalui pesawat,” kata Tirang kepada wartawan, Kamis (6/10/2016).

Direkrut PIAR NTT, Sarah Lery Mboik, usai menerima pengaduan dari ayah korban, langsung membuat laporan polisi ke Polda NTT.

“Kita sudah buat laporan ke Polda NTT. Yang kita laporkan si perekrutnya, Abraham Beti karena memalsukan dokumen korban. Saya harap pihak kepolisian segera menangkap perekrutnya sehingga PJTKI sebagai pengirim korban bisa diproses hukum,” tegas mantan anggota DPD RI ini. (amar ola keda)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment