Tujuh Orang Korban G30S/PKI Dikubur Massal di Sini

Lokasi kuburan massal anggota PKI. bnn/don

Jembrana/BaliNewsNetwork-Setelah melakukan penggalian dan menemukan empat tengkorak manusia dan sejumlah tulang lengan dan kaki, aparat kepolisian tidak perlu melakukan identifikasi. Pasalnya tengkorak dan tulang belulang manusia tersebut diyakini korban G 30 S PKI. Lokasi ini merupakan kuburan masal korban PKI yang terbunuh.

Tulang Belulang Diduga Korban G30S/PKI-Ditemukan di Pantai Yehembang

“Saya tahu persis di lokasi itu ada tujuh orang korban PKI yang dikubur setelah dibunuh,” ujar Guru Kendya (80), seorang warga setempat sekaligus pelaku sejarah, Rabu (6/10/2016) malam.

Bahkan menurutnya, ia masih ingat nama-nama ketujuh anggota PKI yang dikubur di tempat tersebut. Enam orang adalah warga Desa Yehembang dan satu orang warga Tegalcangkring, Mendoyo.

Menurutnya, mereka dikubur setelah dibantai usai Pembrontakan G30S/PKI pecah di Jawa. Yang bertugas mengubur adalah almarhun Dewa Aji Wanten, salah seorang warga Yehembang.

“Sebenarnya di sekitar pesisir Yehembang ada 40 orang anggota PKI yang dikubur setelah dibunuh. Sebanyak 33 orang dikubur di areal setra (kuburan) dan tujuh orang dikubur di lokasi ditemukan tulang belulang kemarin,” lanjut Guru Kendya.

Bendesa Pakraman Yehembang Ngurah Gede Aryana dikonfirmasi membenarkan tulang belulang yang ditemukan warga tersebut adalah korban G 30 S PKI yang dikubur secara massal.

Sebenarnya, lanjut dia, jasad mereka oleh pihak keluarga telah diaben sesuai ajaran agama Hindu. Namun karena tulang ini  muncul lagi akibat abrasi, pihak desa pakraman akan melakukan pecaruan. Sementara tulang belulang tersebut setelah diserahkan petugas kepolisian kepada desa adat untuk dikubur di setra lengkap dengan upacara piuning.

“Jadi Kami tidak perlu melakukan pengabenan lagi. Karena jasad mereka sebenarnya sudah diaben oleh pihak keluarga,” ujarnya.

Karena telah melalui proses pengabenan, maka pihaknya meminta aparat kepolisian untuk menghentikan penggalian tulang belulang yang masih terkubur atau yang tidak kelihatan. Mengingat secara ajaran Hindu tulang belulang tersebut sudah dibersihkan melalui proses pengabenan.

Di samping itu jika dilakukan penggalian untuk mencari tiga tengkorak lagi, dicemaskan akan memperparah  abrasi.

“Tulang belulang yang muncul akibat abrasi itu bisa dibilang sampah. Tapi kami tetap melakukan pecaruan dan mengubur tulang belulang itu di tempat yang layak, yakni di Setra,” katanya. (don)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment