Dituntut 16 Tahun Penjara, Kakek Australia Pedofil Keberatan

Terdawak Robert Andrew Fiddes Ellis dan penasihat hukumnya Yanuar Nahak. Foto: bnn/ist.

Denpasar/BaliNewsNetwork-‎Robert Andrew Fiddes Ellis (70) warga Australia yang menjadi terdakwa kasus pedofil dengan korban sebanyak 14 anak di bawah umur‎ di Bali, dituntut 16 tahun penjara di Pengadilan Negeri Denpasar, Selasa (13/9/2016) oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Ketut Alit Suastika dkk.

Di hadapan majelis hakim yang dipimpin I Wayan Sukanila, para jaksa dari Kejaksaan Tinggi (Kejati)  Bali itu  tak hanya menuntut hukuman 16 tahun penjara melainkan juga menuntut agar terdakwa membayar denda senilai Rp 2 miliar.

Menurut JPU perbuatan terdakwa  sangat merugikan korban, merusak masa depan para korban dan juga  juga merusak moral generasi muda bangsa.

“Oleh karena itu memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 16 tahun dan denda Rp 2 miliar,” kata jaksa Purwanti yang membacakan tuntan tersebut.

Menurut JPU, terdakwa Robert Andrew Fiddes Ellis secara sah dan meyakinkan telah melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur sebagaimana diatur dalam  Pasal 76 huruf e jo Pasal 82 ayat (1) UU Perlindungan Anak jo Pasal 65 KUHP.

Usai sidang, terdakwa melalui kuasa hukumnya Robert Yanuar Nahak mengatakan  tak terima dengan tuntutan jaksa.

“Ancaman hukum dalam Pasal 82 itu maksimal 15 tahun. Lalu dari mana rumusnya jaksa bisa menuntut 16 tahun?,” kata Yanuar Nahak, kesal.

Selain itu, seharusnya jaksa  bisa mempertimbangkan dengan mengungkap siapa di balik kasus perdagangan anak yang mengakibatkan kliennya terjebak dalam kasus ini.

Karena itu Yanuar Nahak berjanji akan all–out ketika mengajukan pembelaan (pleidoi) terhadap klien pada sidang pekan depan.

Siti Sapura, aktivis perlindungan anak

Siti Sapura, aktivis perlindungan anak

Lain halnya dengan  Siti Sapurah, aktivis perlindungan anak. Ipung biasa disapa begitu,  mengaku  hukuman terhadap Robert masih sangat ringan. Kata dia, seharusnya diancam hukuman mati, kalau  memasukan Pasal 81 jo 82 UU Perlindungan Anak yang menurutnya hukuman sangat ringan.

“16 tahun itu ringan sekali, seharusnya jangan dipasangkan Pasal 81 jo 82 itu, saya malah berharap Perpu nomor 1 tahun 2016 tentang perlindungan anak dimasukan. Karena ancamannya bisa sampai hukuman mati,” tegas dia. (sid)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment