Terharu Kata-kata Inspiratif Para Motivator, Peserta Seminar Berlinang  Air Mata

Suasana ketika para siswi terlihat berlinang air mata. Foto: balinewsnetwork/rahman sabon nama.

Semarapura/BalinewsNetwork-Seminar Strategi Memulai dan Mengembangkan Startup Bisnis Berbasis ICT, Selasa (30/08/2016), berakhir dengan linangan air mata oleh sebagian besar peserta. Bukan apa-apa, di akhir seminar itu, para motivator dan inspirator dari STIKOM Bali meminta 200-an peserta di ruang Praja Mandala Kantor Bupati Klungkung berdiri mamatung, memejamkan mata, sambil mendengarkan kata-kata inspiratif yang diucapkan Made Sarjana yang menggambarkan sosok seorang ibu.  Diiringi alunan lagi ”Oh Bunda”, Made Sarjana membuat para peserta meneteskan air mata. Suasana  makin mengharukan begitu empat siswi tak kuasa menahan emosinya lalu  menangis sesenggukan.

Menurut Made Sarjana, kata-kata inspiratif itu memang selalu menjadi akhir dari setiap seminar guna menyadarkan peserta, betapa peran sentral  ibu dalam membesarkan seorang manusia, bahkan sejak masih dalam kandungan.

Ratusan Siswa Klungkung Antusias Ikuti Seminar Strategi Memulai dan Mengembangkan Startup Bisnis Berbasis ICT

“Sehebat apapun Anda, sesukses apapun Anda, kalau Anda melupakan ibumu, maka  kehancuran sudah di depan mata. Karena surga ada di bawah telapak kaki ibu,” kata Sarjana.

Menjawab keraguan para siswa yang enggan berbisnis karena takut gagal, Made Sarjana menjelaskan bahwa dalam berbisnis kegagalan adalah sebuah keniscayaan. Yang terpenting bagaimana kita memetik pelajaran dari kegagalan itu.

Made sarjana dan Made Marlowe Bandem memotivasi kepada peserta seminar

Made sarjana dan Made Marlowe Bandem memotivasi kepada peserta seminar

“Karena kegagalan tidak akan pernah terjadi bagi orang yang tidak berhenti untuk mencoba dan berusaha bangkit dari keterpurukan dan kegagalan itu,” kata Made Sarjana, seorang praktisi manajemen dan akademisi.

Menariknya, usai seminar dua  siswa SMA Pariwisata Saraswati Klungkung kelas 11, Ni Kadek Bela Anjani dan Dewa Gede Ari Susiana, mendekati Sarjana sambil menyampaikan unek-uneknya.

“Saya tidak punya talenta, saya tidak punya kelebihan, apakah saya bisa sskses dalam bisnsi.,” curhat Bela Anjani dan diamini Dewa Gede  Ari Sudiana.

Dewa Gede Ari Sudiana dan Ni Kadek Bela Anjani

Dewa Gede Ari Sudiana dan Ni Kadek Bela Anjani

Sarjana menjelaskan, seorang pengusaha tidak harus berbakat. Banyak sekali pengusaha yang sukses padahal bukan dari keluarga pebisnis, akan tetapi dia bangkit dan akhirnya sukses karena mengalami sebuah keterpurukan.

“Yang terpenting bagaimana merubah kebuntungan menjadi sebuah keberuntungan,” tegasnya.

Sebelumnya Sarjana memberi ilustrasi seorang pria bernama Agus, yang diputus oleh pacarnya hanya karena dia memiliki sepeda motor seven ceblok. Tapi akhirnya Agus termotivasi lalu belajar berusaha sendiri sebagai fotografer amatiran hingga menjadi fotografer professional dan kini memiliki usaha di seluruh Bali dengan omzet 300-an juta per bulan.

Made Sarjana dan Marlowe Bandem foto bersama peserta seminar

Made Sarjana dan Marlowe Bandem foto bersama peserta seminar

Bermodal sepeda motor seven ceblok dan kamera pinjaman,  kini Agus seorang pengusaha fortografer dan menjadi langganan wisuda STIKOM Bali. Agus yang kini memiliki sebuah mobil Nissan Juke, sutau hari  bertandang ke rumah mantan pacarnya. Tentu mantan pacaranya itu kaget setengah mati. Dia tak menyangka Agus sudah menjadi seorang pengusaha sukses.

“Mantan pacarnya itu terlihat menyesal setengah mati karena salah menilai Agus,” tukas Sarjana, memotivasi para peserta seminar.

Lain lagi kisah Made Marlowe Bandem, narasumber seminar ini. Dia memulai usaha membeli sebuah bank dengan modal pinjaman calon ayah mertuanya. Meski lulusan perguruan tinggi bisnis di Australia, aturan Bank Indonesia tidak memungkinkan dia sebagai direktur. Dia terpaksa mengangkat orang lain sebagai direktur, sementara Marlowe sebagai staf keuangan.

“Karena waktu itu bank tersebut ada kredit macet, kami turun ke lapangan untuk nagih. Tuan rumah bilang, saya tak punya apa-apa untuk bayar hutang pak. Kalau bapak bisa nangkap kucit (anak babi-red) saya, itulah saya pake bayar hutang. Daripada tidak dapat uang, saya terpaksa buka baju. Dirut saya juga buka baju, kami sama-sama nangkap kucit, bayangin repotnya nangkap kucit tapi akhirnya kami bisa,” kisah Marlowe sambil terkekeh-kekeh.

Singkat cerita dia memanfaatkan kepercayaan ayah mertuanya tersebut dengan baik hingga akhirnya memilki dua bank BPR.

“Jadi intinya saya memulai bisnis dengan modal pinjaman tetapi bisa. Kata kuncinya adalah jaga kepercayaan orang yang telah memberimu uang, sekalipun itu keluargamu sendiri,” sebut Marlowe.

Seminar ini terselenggara atas kerja sama antara  STIKOM Bali, Harian Bisnis Bali, Pemkab Klungkung dan Kadin Bali. Seminar dibuka oleh Plt Asisten 1 Setda Pemkab Klungkung Wayan Sumarta, mewakili Bupati Klungkung  Nyoman Suwirta.

Sumarta berharap,  peserta seminar yang berasal dari beberapa SMA/SMK di Klungkung,  dapat menyimak  seminar dengan baik sehingga termotivasi menjadi seorang pegusaha.

“Anda sangat beruntung dapat mengikuti seminar seeprti ini, apalagi narasumbernya dari STIKOM Bali dan Ketua Kadin Bali. Manfaatkanlah seminar ini sebaik-baiknya, jadilah generasi emas bagi Kabupaten Klungkung,” kata Sumarta, yang juga Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Klungkug.  (rsn)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment