Dua Putrinya Direkrut ke Malaysia, Emanuel Lapor Polisi

Emanuel Beti. Foto/amar ola keda

Kupang/BaliNewsNetwork-Meski Pemerintah Provinsi di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini tengah gencar memerangi tindak pidana perdagangan orang (human trafficking), namun masih saja pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau Tenaga Kerja Wanita (TKW) secara ilegal oleh Perusahaan Jada Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Pihak PJTKI dengan berbagai cara membujuk calon korban dengan iming-iming gaji yang menggiurkan bahkan, nekad mengirim korban tanpa surat persetujuan orangtua korban.

Hal ini dialami Emanuel Beti (57), warga RT 14 RW 07 Desa Oemofa, Kecamatan Amabi Feto Timur, Kabupaten Kupang. Dua anak wanitanya yang masih dibawah umur, yakni Dursila Beti (hilang 2014) dan Delsi Beti (hilang 2016) tiba-tiba menghilang dan tak tahu keberadaannya.

Diduga kuat keduanya menjadi korban perdagangan orang. Karena setelah lama dinyatakan hilang, pihaknya baru mendengar kabar bahwa kedua kakak beradik itu direkrut oleh salah satu PJTKI di Kupang dan dikirim ke dua daerah berbeda.  Dursila di Malaysia dan Delsi berada di Kalimantan.

Niat mengetahui persis nasib kedua putrinya, Rabu (10/8/2016) Emanuel nekad mendatangi Mapolda NTT untuk melaporkan kehilangan dua anak kandungnya yang hingga kini ia dan keluarganya belum mengetahui pasti keberadaan mereka.

Emanuel Beti serta keluarga menemui LPSK di Aston Hotel Kupang.

Emanuel Beti serta keluarga menemui LPSK di Aston Hotel Kupang.

“Saya sudah mendatangi Polda NTT  untuk melaporkan dua anak saya yang pergi dari rumah tanpa sepengetahuan saya dan keluarga. Menurut infomasi yang kami terima, anak saya Dursila di Malaysia dan adiknya Delsi di Kalimantan,” ujar Emanuel saat ditemui di Aston Hotel Kupang, Jumat (10/8/2016).

Emanuel menuturkan, kasus kehilangan dua anak kandungnya itu terjadi pada tahun 2014 silam. Awalnya pada  bulan Juli 2014, anak perempuannya Dursila Beti  yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (kelas 1) di SMPN II Amabi Feto Timur, berpamitan untuk pergi ke sekolah,  namun setelah menunggu seharian anaknya tidak kunjung pulang, kemudian mereka mendatangi sekolah SMPN II Amabi Feto Timur, namun mereka tidak menemukan Dursila saat itu.  Belakangan diketahui kalau Dursila menyembunyikan Pakaiannya di dalam tas sekolah. Sejak itu orang tua berserta keluarga tidak lagi mendapat informasi keberadaan Dursila.

Sekitar tiga bulan menghilang, pihaknya baru mendapat kabar pada bulan Oktober 2014 melalui telepon seluler dari Dursila bahwa ia sekarang bekerja di Malaysia sebagai pembantu rumah tangga. Lewat telepon itu, lanjut Mikhael, anknya Dursila mengaku direkrut oleh oknum perusahan PJTKI yang berkantor di Oesapa Kupang, namun saat itu Dursila tidak menyebutkan siapa perekrut dan apa nama perusahannya.

“Waktu  itu dia (Dursila-red) pamit untuk pergi sekolah, tetapi jam pulang sekolah dia tidak lagi kembali ke rumah hingga sekarang. Kami cari kemana-mana tetapi tidak ketemu. Kabar ia di Malaysia juga setelah tiga bulan baru dia telepon bahwa dia direkrut ke Malaysia. Dia hanya bilang kalau PJTKI itu kantornya di Oesapa,” tutur Mikhael.

Sedangkan Delsi Beti adik kandung Dursila Beti, terjadi pada bulan Agustus 2016. Seperti Dursila, Delsi yang saat ini masih duduk di bangku SMA di salah satu sekolah di Amabi Feto Timur, pada Selasa (2/8/2016) lalu, berpamitan untuk pergi ke sekolah, namun sejak pamit ke sekolah, Delsi tidak kembali ke rumah. Seminggu kemudian, lanjut Mikhael, keluarga mendapat kabar dari Delsi melalui telepon bahwa anakny kini ada di Kalimantan.

“Pada hari Selasa 2 Agustus 2016, Delsi pamit ke sekolah, tetapi tidak pulang lagi ke rumah, setelah seminggu dia pergi dari rumah baru dia telephone kalau dia sekarang ada di Kalimantan, sebelumnya dia bilang ada datang kerja di Kupang,” ungkap Emanuel.

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Dr. H. Askari Razak, S.H.MH saat menerima pengaduan Emanuel di Hotel Aston Kupang mengatakan, kasus yang dialami dua kakak beradik itu harus segera di laporkan ke pihak kepolisian sehingga kasus tersebut segera ditangani. Karena menurutnya, dengan melapor ke pihak aparat hukum, oknum-oknum perekrut kedua anak bisa terungkap.

Dia mengajak seluruh komponen baik masyarakat maupun pemerintah untuk terus melakukan sosialisasi tentang ketenagakerjaan agar kasus kasus human trafficking tidak lagi terjadi di NTT. Karena menurutnya, grafis kasus perdagangan orang di NTT terus meningkat.

Razak berjanji akan terus mengawal kasus yang alami oleh dua kakak beradik Dursil Beti dan Delsi Beti, sebagai tugas dan tanggung jawab LPSK yang telah dimandatkan oleh Undang undang. Menurutnya, kasus human trafficking merupakan salah satu kasus prioritas oleh LPSK. (amar ola keda)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment