DIrektur Pencegahan BNPT: Sekitar 1.200 Orang Eropa Menjadi Anggota ISIS

Brigjen Pol Hamidin.Foto: Balinewsnetwork/rahman sabon nama

Sanur/Balinewsnetwork-Ada fakta mengejutkan disampaikan oleh Direktur Pencegahan, Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Hamidin ketika tampil sebagai pembicara kunci menggantikan Komjen Pol Tito Carnavian, dalam acara Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Penguatan Profesionalisme Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme, di Sanur, Bali, Kamis (30/06/2016).

Hamidin mengatkan, sampai tahun 2016 ini, jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang teridentifikasi menjadi anggota ISIS sebanyak 364 orang. Angka ini ternyata hampir 1/3 dari total warga negara Eropa yang mencapai sekitar 1.200 orang menjadi anggota ISIS.

Sementara itu sampai saat ini, lima negara Eropa   yang warganya terbanyak menjadi anggota ISIS adalah  Rusia 500 orang,  Perancis 200 orang, Australia 200 orang, Belgia lebih dari 150 orang,  dan  Inggris 150 orang sehingga total seluruhnya 1.200 orang. Sedangkan  Arab Saudi “menyumbang” 200 orang, dan Mesir 500 orang.

“Artinya selain sentiment agama, ada faktoir lain yang membuat seseorang tertarik bergabung dalam sebuah organisasi teroris seperti ISIS. Bahkan yang lebih konyol banyak wanita yang gabung dengan ISIS karena terobsesi melihat anggota ISIS memenggal kepala orang berarti secara seksual lebih hebat,” kata Hamidin

Hamidin menjelaskan, secara teoritis ada empat faktor yang membuat seseorang menjadi terorsis. Faktor pertama adalah pertalian darah. Dia memberi contoh, Nasir Abbas dengan Mukhlas alias Ali Gufron, teroris Bom Bali 1. “Parida Abbas, adik kandung Nasir Abbas, kawin dengan Mukhlas alias Ali Gufron. Seorang  teroris Poso asal Bima, mulai dari kakek, ayah hingga anaknya adalah teroris.  Kedua, factor pertemanan. Mukhlas, Imam Samudra dan Umar Patek adalah teman seperjuangan di Afghanistan dulu. “Mereka mempunyai pemahaman yang sama dalam memandang Islam. Karena itu begitu salah satunya memilih menjadi teroris, dia akan mngajak teman lainnya,” beber Hmidin.

Ketiga, hubungan guru dan murid, dan faktor keempat adalah mengultuskan seseorang, seperti ustadz Abubakar Baasyir dikultuskan oleh pengikutnya.

Di Indonesia, kata Hamidin, ada 21 organisasi  radikal teroris. Antara lain, Ring Banten, Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso, Jamaah Tauhid Waljihat pimpinan Oman Abdurahman, Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) pimpinan Abubakar Baasyir,  Jamaah Tawhid, Forum Aktivis Syariah Islam Faksi,  pendukung dan pembela Daulah, Gerakan Reformis Islam Garis Keras, Asybal Tauhid Indonesia, Konggres Umat Islam Bekasi(KUIB), Umat Islam Nusantara,  Ikhwan Muwahid Indunisy Fie Jazirah Al Muluk (Ambon), IS Aceh, Ansharul Khilafah Jawa Timur, Hawali Makmun Group, JAT, Laskar Jundulah, Mujahidin Indonesia Barat (MIB) pimpinan Bachrumsyah, DKM Masjid Al Fataa, Jamaah Asharut Daulah, dan Mahad Anshhorullah.

Lalu siapa pemain sesungguhnya? Menurut Hamidin ada tiga kelompok yang diwaspadai. “MIT pimpinan Santoso, kelompok Abubakar Baasyir, dan kelompok Oman Abudrahman,” terangnya.(rsn)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment