SMKN 3 Singaraja Ciptakan SPM Berbahan Bakar LPG

Sepeda motor berbahan bakar LPG karya  SMKN 3 Singaraja. Foto:/BNN/ina

Singaraja/BNN-Buleleng Education Ekspo (BEE) yang pertama kali diselenggarakan Pemkab Buleleng melalui Dinas Pendidikan memamerkan berbagai keunggulan yang berhasil digarap setiap sekolah yang ada di Kota Pendidikan, Singaraja.

Seperti halnya karya yang dipamerkan oleh siswa jurusan Teknik Sepeda Motor SMKN 3 Singaraja.  Sekolah yang dikenal  berprestasi di bidang otomotif  ini berhasil menciptakan Sepeda Motor (SPM) menggunakan bahan bakar Liquid Petroleum Gas alias LPG.

Terang saja stan pameran SMKN 3 Singaraja ini menjadi perhatain para pengunjung, termasuk Bupati Putus Agus Suradnyana dan rombongan usai membuka pameran pendidikan di gedung kesenian Gde Manik Singaraja Rabu (1/6).

Tidak hanya melihat hasil eksperimen, pengunjung diberikan kesempatan menghidupkan mesin sepeda motor berbahan bakar LPG tersebut.

Kadek Sukra Ardana salah seorang siswa SMKN 3 Singaraja yang tergabung dalam tim eksperimen ini  menjelaskan, ide awal untuk merubah bahan bakar sepeda motor dari premium menjadi LPG ini muncul karena keinginan untuk menggunakan bahan bakar yang lebih hemat. Selain itu, pemakaian premium sebagai bahan bakar sepeda motor masih menjadi pemicu pencemaran udara dari emisi gas buang. Dari pengalaman di lapangan itu, Sukra dan rekan-rekannya kemudian mencoba mengganti premium dengan LPG.

”Pertama kenapa kami membuat kendaraan bertenaga LPG ini awalnya di saat BBM mengalami kenaikan. Keinginan kami ingin menghemat biaya makanya tercipta seperti ini di sekolah kami,” katanya sambil menyebut untuk menciptkan karya  ini, mereka butuh waktu  hingga  tiga bulan.

Komang Agus Susanta, snag guru pembinannya mengatakan, pemakaian bahan bakar LPG untuk sepeda motor atau kendaraan lain memang sudah banyak ditemukan. Meski demikian kreatifitas anak didiknya merupakan hasil eksperimen yang membanggakan. Dari segi keunggulan sudah sangat bagus yakni hemat bahan bakar dan lebih ramah lingkungan. Pihaknya berharap pemerintah daerah bisa memfasilitasi agar anak didiknya bisa mengembangkan eksperimennya.

Target ke depannya adalah bagaimana mengoptimalkan tenaga yang dihasilkan dari bahan bakar LPG ini.

”Kami dan anak-anak maish mempelajari karena kalau LPG ini nilai oktannya lebih tinggi yakni 112 dibandingkan premium yang memiliki nilai oktan 88. Teorinya, semakin tinggi nilai oktan maka energy yang dihasilkan akan semakin besar. Namun dari eksperimen anak-anak ini belum bisa dicapai, sehingga memerlukan pembelajaran ke depannya,” jelas komang Agus Susanta. (ina)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment