Alami Kebutaan, Astini  Tunggu Uluran Tangan Warga Untuk Makan Setiap Hari

Ditemani tongkat, Kadek Astini memcari air minum di sekitar rumahnya

Singaraja/BNN-Hidup tak selamanya sempurna. Mungkin hal itu yang dialami oleh seorang perempuan paruh baya bernama Kadek Astini, warga dusun Santal, desa Banjar, kecamatan Banjar, Buelelng yang mengalami kebutaan sejak lahir dan kini hidup sebatang kara dengan menanggung seorang ibu yang usianya sudah lanjut.

Astini menempati rumah dinding  yang terbuat dari tanah dengan atap seng tak mampu berbuat banyak. Hal itu lantaran kebutaan yang dialami sejak lahir. Kini perempuan yang akrab disapa Dek Tini itu hanya bisa menunggu uluran tangan warga setempat guna menyambung hidupnya.

”Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Mata saya buta, berjalan saja saya harus meraba-raba apalagi saya bekerja untuk mencari uang. Saya makan hanya menunggu uluran tetangga saja,” katanya sambil menarik nafas panjang saat ditemui media ini  di rumahnya.

Kadek Astini yang hidup bersama dengan ibunya bernama Putu Renen yang sudah usia lanjut kini hanya bisa diam meratapi hidupnya tanpa bisa berbuat banyak. Setiap hari Tini harus mengambil air minum di bawah rumahnya dengan menggunakan jerigen yang isinya dua liter untuk dikonsumsi. ”Saya mengambil air ini dengan menggunakan jerigen. Kalau hujan datang saya tidak berani, sekarang kebetulan hujan reda, saya berani mengambil air dengan ditemani tongkat. Kalau tidak berpegangan, saya tidak mampu jalan,” katanya.

Bukan hanya itu, Tini mengaku selama ini dirinya bersama ibunya tidak pernah menerima raskin yang dibagikan pihak desa melalui dusun. “Kalau masalah raskin saya tidak pernah dapat pak. Tidak tahu apa penyebab saya tidak dapat,” katanya lagi dengan polos.

Di lain sisi, wanita yang memilih tidak menikah selama hidupnya itu mengatakan  selama ini  tidak mendapatkan jaminan apapun yang dikeluarkan pemerintah baik JKBM, JKN atau yang lainnya. ”Sudah saya bilang saya tidak mendapatkan apa yang dikeluarkan oleh pemerintah. Tapi saya sendiri tidak pernah menuntut, saya serahkan semua itu kepada yang di Atas. Kalau memang saya dapat, ya biar saya terima,” jelasnya,  pasrah.

 Ditanya apa   harapannya ke depan,  Tini  berharap bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah. Hal itu karena dirinya yang hidup dengan orang tua berusia lanjut sedikitnya ada peratian pemerintah baik bupati atau gubernur.”Kalau boleh saya minta cukup saya diberikan perhatian oleh pemerintah saja. Kalau saya minta yang berlebihan, saya malu toh juga saya masih seperti ini. Dulu pernah ada yang datang ke rumah saya, bilang memberikan bantuan namun sampai sekarang tidak ada. Makanya saya pasrah sekarang,” tuturnya, lirih. (ina)

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment